Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Beda Pendapat Gajah Mada dan Gayatri tentang Kekuasaan Berujung Debat Alot

Tim Okezone , Jurnalis-Selasa, 21 Mei 2024 |08:04 WIB
Beda Pendapat Gajah Mada dan Gayatri tentang Kekuasaan Berujung Debat Alot
Gayatri Rajapatni. (Foto: Ist/Wikipedia)
A
A
A

SUMPAH Palapa yang diucapkan Gajah Mada saat pelantikan menjadi Mahapatih Majapahit berbuntut panjang. Di momen pelantikan itu internal pejabat Kerajaan Majapahit pun berdebat dan saling bertengkar akibat misi ambisius sang mahapatih tersebut.

Bahkan karena perdebatan dan pertengkaran itu, satu pejabat istana Kerajaan Majapahit yakni menteri keamanan tewas. Sang menteri tewas dibunuh oleh Gajah Mada yang kesal dengan umpatan Saden Kembar, karena tidak setuju dengan Sumpah Palapa yang diucapkannya.

Konon pasca pembunuhan itu, Gajah Mada menyesal dan meminta maaf pasca Sumpah Palapa yang diucapkannya berujung konflik di internal Kerajaan Majapahit.

BACA JUGA:

Ketika Kerajaan Majapahit Taklukan Bali di Masa Gajah Mada 

Bahkan saat itu Gajah Mada menunjukkan wajah kesedihan, tetapi tetap denga sifat keras kepalaannya. Gajah Mada sadar membunuh sama artinya dengan melanggar ajaran etis Buddha.

Alhasil Gajah Mada sebagaimana dikisahkan pada buku "Gayatri Rajapatni : Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit", dari Earl Drake dipanggil oleh Gayatri, dewan penasehat raja sekaligus ibu dari Tribhuwana Tunggadewi, sang penguasa Majapahit.

Gayatri menghendaki agar perseteruan itu diselesaikan dengan kepala dingin. Gajah Mada pun minta pengertian Gayatri, seraya menjelaskan ia pun tak memilih kekerasan untuk memecahkan sebagian besar masalah. Namun dalam dunia yang jauh dari sempurna, terkadang orang harus melanggar ajaran agama.

 BACA JUGA:

Gajah Mada juga mengingatkan Gayatri bahwa menurut kode etik keprajuritan, hinaan atas pribadi seperti yang telah dilontarkan Kembar hanya bisa ditanggapi dengan duel sampai mati. Gayatri berusaha meyakinkan Gajah Mada bahwa saat itu dirinya tak ingin membahas persoalan etika, melainkan cara yang paling jitu untuk mencapai tujuan mereka memperluas batas - batas wilayah Majapahit.

Gayatri menjelaskan bahwa pengumumannya itu dapat menggugah banyak orang di ibu kota, tapi boleh jadi negeri - negeri yang ingin bergabung dengan Majapahit menjadi gelisah. Penggunaan kata 'menaklukkan'-lah yang membuat Gayatri cemas.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement