GAZA - Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh mengatakan pada Rabu (5/6/2024) bahwa kelompoknya akan menuntut diakhirinya perang di Gaza secara permanen dan penarikan pasukan Israel sebagai bagian dari rencana gencatan senjata. Ini seolah pukulan nyata terhadap proposal gencatan senjata yang digembar-gemborkan pekan lalu oleh Presiden AS Joe Biden.
Sementara itu, Israel mengatakan tidak akan ada penghentian pertempuran selama perundingan gencatan senjata. Israel terus melancarkan serangan baru di bagian tengah Jalur Gaza dekat kota terakhir yang belum diserbu oleh tank-tanknya.
Ucapan pemimpin Hamas itu seolah menjadi jawaban kelompok militan Palestina terhadap usulan yang disampaikan Biden pekan lalu. Washington mengatakan pihaknya sedang menunggu jawaban dari Hamas atas apa yang digambarkan Biden sebagai inisiatif Israel.
“Gerakan dan faksi-faksi perlawanan akan menangani secara serius dan positif setiap perjanjian yang didasarkan pada penghentian agresi secara komprehensif dan penarikan penuh serta pertukaran tahanan,” kata Haniyeh, dikutip Reuters.
Ketika ditanya apakah pernyataan Haniyeh merupakan balasan kelompok tersebut terhadap Biden, seorang pejabat senior Hamas membalas pesan teks dari Reuters dengan emoji "jempol".
Washington masih berusaha keras untuk mencapai kesepakatan. Direktur CIA William Burns bertemu dengan pejabat senior dari mediator Qatar dan Mesir pada Rabu (5/6/2024) di Doha untuk membahas proposal gencatan senjata.
Sejak gencatan senjata singkat selama seminggu pada bulan November, semua upaya untuk mengatur gencatan senjata telah gagal, dengan Hamas bersikeras menuntut diakhirinya konflik secara permanen.
Adapun Israel mengatakan pihaknya siap untuk membahas jeda sementara sampai kelompok militan tersebut dikalahkan.