Mantan Gubernur Jawa Barat itu menekankan pentingnya menjaga Jakarta tetap menjadi kota yang humanis di tengah segala kemajuan dan dinamika.
“Di kota sebesar Jakarta, seperti juga di New York, London, atau Beijing, semua ada. Dari konglomerat sampai orang miskin, teknologi tinggi sampai rumah kumuh. Mau makan atau fesyen yang jutaan ada, tapi yang masih susah makan juga ada," katanya.
"Maka, dalam mengelola sebuah kota, kita harus melihat apa yang menjadi esensi sebuah kota, yakni manusia. Kota untuk manusia, bukan manusia untuk kota,” imbuh Ridwan Kamil yang pernah bekerja di Departemen Perencanaan Kota Berkeley, California, AS.
Ridwan Kamil menambahkan, dengan melihat manusia sebagai esensi kota, strategi pembangunan kota harus adil dan proporsional sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
"Adil itu bukan sama rata-sama rasa, tapi sesuai dengan kebutuhannya. Ibaratnya, anak SD, anak SMP, dan anak SMA tidak bisa sama-sama dikasih uang jajan Rp100 ribu. Itu malah merusak. Tapi kita lihat dengan saksama, apa yang dibutuhkan, bagaimana melakukan perbaikan terhadap nasib manusia, apa dan berapa sumber daya yang dibutuhkan," ujarnya.
"Inti dari seni memimpin kota adalah memahami manusia dengan segala harapan, cita-cita, ketakutan, dan kecemasannya,” tuturnya.
Henry juga mengungkapkan bahwa RK saat ini sudah memiliki koordinator di lima kota administrasi dan Kabupaten Pulau Seribu. Setelah konsolidasi ini, organisasi tersebut akan dilengkapi dengan mengangkat koordinator tingkat kecamatan dan kelurahan.
Selain struktur pengembangan teritorial, RK juga akan membentuk organisasi untuk komunitas-komunitas spesifik, seperti perempuan, milenial dan gen Z, buruh, disabilitas, lansia, pendidikan, industri kreatif serta pelaku UMKM.
(Arief Setyadi )