Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Ayah Chairil Anwar Jadi Korban Pembantaian Belanda di Rengat

Qur'anul Hidayat , Jurnalis-Jum'at, 26 Juli 2024 |17:56 WIB
Kisah Ayah Chairil Anwar Jadi Korban Pembantaian Belanda di Rengat
Chairil Anwar. (Foto: Ist/Wikipedia)
A
A
A

Yang selamat dari tragedi itu hanya para keluarga sultan dan warga daerah Gadang yang pro-Belanda. Sebagai “pengenal” bahwa mereka pro-Belanda, biasanya akan dinaikkan bendera kuning di depan rumah masing-masing.

Dari berbagai sumber di Indonesia, tragedi di Rengat pada 5 Januari 1949 ini mencapai hampir 2.000 orang. Namun dari laporan Belanda bertajuk “Excessennota” atau Nota Ekses, jumlah korban dalam peristiwa itu hanya 80.

Laporan Excessennota ini merupakan hasil penyelidikan pemerintah Belanda yang dilakukan ahli sejarah Cees Fasseur pada 1969. Pemerintah Belanda di era 1960-an, merasa kejadian yang ada di Rengat itu hanya sebatas ekses, sekadar insidental dari sebuah misi yang dilakukan tentara Belanda.

Soal ini, hanya segelintir dari penggiat sejarah dan veteran di Belanda mau mengakui. Bahkan jikapun diungkap, mereka akan jadi sasaran intimidasi, hingga ancaman dari para veteran Belanda.

Seperti yang terjadi pada salah satu veteran KL di Indonesia Joop Hueting. Setelah pengakuan kekejaman Belanda di Indonesia ditayangkan di programa tv Belanda, Hueting dikecam dan diancam dari sesama veteran Belanda.

Contoh lainnya adalah sastrawan Belanda Graa Boomsma. Dalam bukunya, dia menyamakan aksi tentara KL di Indonesia denganj Nazi Jerman. Dia pun kena gugat para veteran Belanda.

(Qur'anul Hidayat)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement