CHAIRIL Anwar adalah penyair terkemuka di Indonesia. Ayah Chairil Anwar yang bernama Tulus adalah sorang bupati di Rengat. Bupati Tulus ini jadi satu dari sekira dua ribu orang dibantai Belanda di Rengat pada 5 Januari 1949.
Kisah ini disingkap jurnalis Belanda Anne-Lot Hoek, dalam perjumpaannya dengan Panca Setyawan Prihatin, putra veteran di Rengat Wasmad Rads dan Nini Turaiza Tulus, salah satu putri dari Bupati Tulus yang berarti juga adik dari Chairil Anwar.
Kejahatan perang pada masa Belanda memang terjadi di sejumlah wilayah Tanah Air. Para masa revolusi perang juga terletus di Kota Rengat, yang saat itu masuk wilayah Sumatera Tengah.
Arsip-arsip Belanda yang mulai terbuka untuk umum pada 1980-an itu mengungkapkan banyak daerah lain yang menyimpan kedukaan mendalam bagi warga sipil Indonesia di masa revolusi. Rengat dikenal sebagai “Kota Para Raja”, karena menjadi tempat kelahiran sejumlah sultan-sultan Kerajaan Indragiri.
Kepada Hoek, Panca Prihatin menceritakan ayahnya saksi mata pendaratan unit komando Belanda yang tersohor Korps Speciale Troepen (KST) di Rengat pada 5 Januari 1949 yang punya misi merebut pertambangan minyak di utara Rengat dan Air Molek.
Dalam kisah yang diungkap Hoek di situs Inside Indonesia, disebutkan sebelum pendaratan KST dengan kode “Operatie Modder” atau Operasi Lumpur, lebih dulu sejumlah “Cocor Merah”, sebutan untuk P-51 Mustang, menjatuhkan bom-bom dan menembaki warga sipil di jalan-jalan raya, pasar, hingga permukiman.
Tak lama setelah serangan Cocor Merah, dimulailah penerjunan Kompi I Parasut KST berjumlah 180 personel dengan dikomando Letnan Rudy de Mey, ke daerah Sekip dekat Rengat. Akibat peristiwa inilah saat ini, daerah itu kini disebut Sekip Sipayung.
Selesai mendarat, sweeping terhadap pemuda-pemuda lokal bersenjata dilancarkan. Penembakan di mana-mana. Termasuk Bupati Tulus yang ditembak mati di depan rumahnya, di hadapan istri dan anak-anaknya.
Begitu pun di sebuah gedung pesanggrahan di Sekip yang dulunya jadi kantor pegawai pemerintahan. Sekira puluhan pegawai, termasuk 27 agen polisi Indonesia yang ditangkap, dijejerkan di halaman untuk kemudian ditembaki. Mayat-mayatnya dibuang ke sungai terdekat.
Hoek dalam perjalanannya juga mewawancara keluarga korban lainnya, Ibu Roslia. Pada tanggal yang sama, Roslia teringat ayahnya yang hanya seorang petani, ikut jadi korban, karena berusaha menolong dua tentara republik yang hanyut di sungai.
“Hampir semua warga kampung melarikan diri ke hutan. Banyak mayat-mayat juga terapung di sungai,” aku Roslia kepada Hoek.
Random shooting atau penembakan acak juga terjadi di mana-mana. Para ibu ditembaki bersama anak-anak mereka. Ibu hamil juga tak lepas dari sasaran bidik tentara Belanda, bersama para lansia.