Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Upaya China Tingkatkan Kepercayaan Pasar di Bawah Xi Jinping Dinilai Gagal

Rahman Asmardika , Jurnalis-Sabtu, 27 Juli 2024 |14:14 WIB
Upaya China Tingkatkan Kepercayaan Pasar di Bawah Xi Jinping Dinilai Gagal
Presiden China Xi Jinping. (Foto: Reuters)
A
A
A

JAKARTA - Dalam sidang pleno ketiga Komite Sentral Partai Komunis China (PKC) yang baru saja berakhir, upaya habis-habisan dilakukan untuk membentuk kembali citra Presiden Xi Jinping sebagai seorang reformis pemberani. Semua ini dilakukan PKC demi meningkatkan kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Xi.

Namun, di tengah sikap investor yang menunjukkan respons biasa-biasa saja terhadap kebijakan serta program yang disusun dalam sidang pleno ketiga, tampaknya Xi tidak bisa segera mengerem ketidakpuasan yang meningkat terhadapnya di China, termasuk dari internal PKC.

Di tengah merosotnya pertumbuhan ekonomi, permintaan yang lemah di dalam negeri, dan grafik pengangguran yang meningkat di China, Komite Sentral PKC mengadakan acara politik dua kali dalam satu dekade, yang dikenal sebagai sidang pleno selama empat hari pekan lalu. Untuk meningkatkan semangat para peserta, yang meliputi 199 anggota dan 165 pengganti Komite Sentral, Xi dalam sambutan pembukaannya menyerukan gerakan menuju peremajaan nasional di semua lini melalui modernisasi China, menurut laporan People’s Daily.

Terkait hal ini, para pemimpin PKC sidang pleno empat hari tersebut memetakan lebih dari 300 inisiatif. Namun dalam waktu 24 jam sejak pengumuman inisiatif-inisiatif tersebut, indeks saham acuan Hong Kong anjlok, menurut laporan Nikkei Asia.

Mengutip dari The Hong Kong Post pada Sabtu (27/7/2024), Indeks Bursa Efek Shanghai juga anjlok pada 22 Juli, dan ini terjadi bahkan ketika Bank Rakyat China, bank sentral negara Asia Timur tersebut, mengumumkan pemotongan suku bunga jangka pendek dan jangka panjang yang besar untuk mendorong pertumbuhan di negara tersebut.

PDB China tumbuh 4,7 persen tahun ini di kuartal kedua, sementara total konsumsi rumah tangga hanya mencapai 38 persen dari PDB, dibandingkan dengan 60-70 persen di sebagian besar negara maju. Menurut Rhodium Group, penyedia riset independen yang berbasis di Amerika Serikat (AS), pertumbuhan penjualan ritel sejauh ini hanya mencapai 3,7 persen -- setara dengan hanya sekitar 1 poin persentase pertumbuhan PDB, sementara pertumbuhan pendapatan rumah tangga yang dapat dibelanjakan hanya 5,4 persen.

Krisis properti terus berlanjut, tanpa ada tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat. Menurut Goldman Sachs, total nilai rumah yang tidak terjual, proyek yang belum selesai, dan tanah yang tidak digunakan di China telah naik hingga 30 triliun yuan (USD4,1 triliun). Demikian pula, utang pemerintah daerah naik sebesar 14,3 persen tahun ke tahun menjadi 41,4 triliun yuan (USD5,7 triliun) pada akhir Februari 2024, menurut data yang diperoleh dari Kementerian Keuangan China oleh kantor berita Xinhua.

Gelombang PHK

Di sisi lain, keraguan terhadap tingkat pengangguran yang ditunjukkan pemerintah China semakin dalam karena Biro Statistik Nasional China tiba-tiba mencabut peraturan penerbitan data pengangguran pada Agustus 2023. Tingkat pengangguran di antara penduduk China berusia 16 hingga 24 tahun mencapai lebih dari 21 persen hingga Juli 2023.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement