Sekolah Rakyat akan menggunakan model sekolah berasrama yang tak hanya mengajarkan akademik dasar, tetapi juga pemetaan bakat, penguatan karakter, hingga literasi digital sebagai keterampilan esensial abad ini.
“Anak-anak akan dibina dalam lingkungan belajar yang mendukung kedisiplinan, kesehatan, dan kemandirian,” ucapnya.
Robben menegaskan, bahwa Sekolah Rakyat dan literasi digital bukan dua hal yang berdiri sendiri. Keduanya saling memperkuat sebagai wujud nyata negara hadir di tengah masyarakat.
Program ini bukan hanya tentang membangun sekolah, tetapi tentang mengubah hidup: dari tidak punya cita-cita, menjadi anak bangsa yang berani bermimpi besar.
“Insya Allah, dengan Sekolah Rakyat, anak-anak kita bisa mulai melihat kembali cita-citanya,” tutup Robben Rico.
Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Nursodik Gunarjo, menambahkan, pihaknya ingin membangun narasi bangsa yang inklusif dari masyarakat, untuk masyarakat.
“Dengan literasi digital yang kuat, masyarakat bisa lebih berdaya dalam menyuarakan kontribusinya terhadap pembangunan nasional,” ujarnya.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.