JAKARTA - Plt. Direktur Penerangan Agama Islam, Kemenag Ahmad Zayadi, mengungkapkan, Majelis Taklim bisa menjadi ruang penting untuk memperkuat literasi keagamaan, harmoni sosial, dan kesadaran ekoteologi di lingkungan majelis taklim seluruh Indonesia.
“Majelis taklim hari ini bukan hanya tempat mengaji, tetapi ruang menemukan ketenangan, solidaritas, dan nilai agama yang meneduhkan,” ujarnya, dikutip, Kamis (7/11/2025).
Zayadi menjelaskan, Kemenag membuat Festival Majelis Taklim untuk mengakomodasi berbagai ekspresi syiar keagamaan dalam format yang kreatif dan relevan.
“Kita ingin memberi ruang bagi narasi keagamaan yang moderat, berkeadaban, dan selaras dengan kebutuhan masyarakat hari ini,” terangnya.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan komunitas majelis taklim melalui pembinaan yang berkelanjutan. Sinergi tersebut, kata Zayadi, telah terbangun melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan jejaring masyarakat sampai tingkat akar rumput.
“Kerja bersama ini sangat dibutuhkan agar pembinaan majelis taklim semakin efektif dan terasa manfaatnya,” ujarnya.
Selain itu, Zayadi mengungkapkan urgensi pengarusutamaan ekoteologi sebagai bagian dari dakwah majelis taklim masa kini. Dalam pandangannya, relasi manusia dan alam harus dibangun bukan dengan pola yang eksploitatif, melainkan dengan kesadaran tanggung jawab spiritual dan ekologis.
“Ekoteologi adalah wacana penting agar majelis taklim ikut merawat bumi, menjadikan perhatian terhadap lingkungan sebagai bagian dari ibadah,” katanya.
Ia berharap Festival Majelis Taklim 2025 dapat menjadi momentum lahirnya generasi penggerak majelis taklim yang kreatif, adaptif, dan berdaya sosial tinggi.
“Dari ruang seperti inilah muncul kader-kader yang menghadirkan syiar agama secara elegan, moderat, dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” tutup Zayadi.
Kasubdit Kemitraan Umat Islam Ditjen Bimas Islam, Ali Sibromalisi, menambahkan, Festival Majelis Taklim 2025 merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam memajukan kapasitas majelis taklim di Indonesia.
Ia menilai antusiasme peserta menjadi bukti kuat bahwa majelis taklim adalah entitas yang hidup, dinamis, dan dekat dengan keseharian masyarakat.
“Peserta datang dengan semangat tinggi, dari yang muda hingga yang sepuh. Ini menunjukkan bahwa majelis taklim tetap relevan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa festival ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga wahana silaturahim nasional antarmajelis taklim. Melalui interaksi lintas daerah, para peserta dapat saling bertukar gagasan, pengalaman, dan metode pembelajaran.
Ali berharap festival yang merupakan rangkaian dari program The Wonder of Harmony ini menjadi langkah awal menghadirkan ekosistem majelis taklim yang lebih aktif dan berdaya.
“Semoga majelis taklim ke depan semakin produktif dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )