Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pesantren, Ekonomi Hijau, dan Masa Depan Indonesia

Opini , Jurnalis-Jum'at, 28 November 2025 |20:24 WIB
Pesantren, Ekonomi Hijau, dan Masa Depan Indonesia
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Saepudin Jahar (foto: dok UIN)
A
A
A

Ekoteologi: Tafsir Ulang Peran Pesantren di Era Krisis Lingkungan

Krisis ekologi adalah salah satu tantangan paling serius abad ini. Laporan UN Environment Programme (2024) menunjukkan bahwa degradasi lingkungan menyumbang 14% kemiskinan ekstrem di negara berkembang. Kerusakan lingkungan ternyata tidak hanya persoalan teknis, melainkan persoalan etika dan spiritualitas manusia.

Dalam khazanah Islam, kesadaran ekologis bukan konsep baru. Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah fil-ardh—pemelihara bumi. Tradisi pesantren selama ratusan tahun telah menginternalisasikan nilai kesederhanaan, tawazun (keseimbangan), dan keberkahan hidup. Model ini sangat dekat dengan gagasan eco-theology dalam studi keagamaan modern — sebagaimana dianalisis John Grim dan Mary Evelyn Tucker dalam Ecology and Religion (2014), bahwa agama dapat menjadi kekuatan pembentuk perilaku ekologis melalui spiritualitas, etika, dan komunitas.

Jika ekoteologi diintegrasikan dalam kurikulum pesantren, dampaknya bukan hanya perubahan cara berpikir, tetapi perubahan cara hidup: dari konsumsi berlebih menuju keberlanjutan, dari eksploitasi menuju konservasi, dari orientasi keuntungan menuju keberkahan. Indonesia membutuhkan paradigma itu.

Kemandirian Ekonomi Umat: Ketika Nilai dan Ekonomi Berjalan Bersama

Transformasi pesantren tidak hanya menyangkut kurikulum. Ia juga menyangkut kemandirian ekonomi umat. Modal sosial pesantren sangat besar: komunitas santri, alumni, jejaring kiai, kepercayaan publik, dan ikatan emosional masyarakat. Semuanya adalah social capital yang, menurut Robert Putnam dalam Making Democracy Work (1993), adalah fondasi ekonomi masyarakat yang paling kuat. 

Dengan fondasi ini, pesantren dapat mengembangkan: pertanian berkelanjutan, industri halal berbasis lokal, koperasi pesantren, energi terbarukan, UMKM berbasis pesantren, dan kewirausahaan sosial santri. Peran pesantren dalam ekonomi bukanlah “komersialisasi lembaga agama”, tetapi moda ekonomi bermoral — ekonomi yang menggabungkan produktivitas dan keadilan. Persis seperti yang digarisbawahi oleh Muhammad Yunus (peraih Nobel Perdamaian) dalam Creating a World Without Poverty (2007), bahwa kewirausahaan sosial mampu mengubah kemiskinan struktural tanpa kehilangan nilai kemanusiaan. Kemandirian ekonomi pesantren bukan hanya untuk pesantren; ia adalah strategi membangun kemandirian umat.

 

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement