Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pesantren, Ekonomi Hijau, dan Masa Depan Indonesia

Opini , Jurnalis-Jum'at, 28 November 2025 |20:24 WIB
Pesantren, Ekonomi Hijau, dan Masa Depan Indonesia
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Saepudin Jahar (foto: dok UIN)
A
A
A

Bila ketiga syarat ini terpenuhi, pesantren bukan hanya bertahan di tengah arus zaman, tetapi memimpin zaman. Apalagi penelitian Alec Ryrie (2020) menegaskan bahwa lembaga keagamaan yang adaptif dan terhubung dengan ekosistem sosial–ekonomi cenderung memiliki daya hidup multidimensi, termasuk dalam ketahanan komunitas. Dengan arah pembangunan yang tepat, pesantren dapat menjadi lokomotif pendidikan karakter, kesejahteraan umat, ketahanan ekologis, serta pemberdayaan ekonomi berbasis spiritualitas. Inilah saatnya negara dan pesantren bergerak bersama untuk mengubah potensi menjadi kekuatan perubahan.

Kolaborasi Kampus dan Pesantren: Melahirkan Generasi Pemikir–Penggerak

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memandang pesantren bukan sebagai “masa lalu”, tetapi sebagai masa depan peradaban Indonesia. Kampus dan pesantren bukan dua kutub, melainkan satu tradisi ilmu dengan ekspresi yang berbeda. Di sinilah saya percaya pada konsep knowledge transfer partnerships atau “berbagi kecakapan” — kampus memperkuat penelitian, pesantren memperkuat kepekaan spiritual; kampus mengembangkan inovasi, pesantren menghidupkan nilai-nilai akhlak.
Transformasi generasi tidak cukup hanya dengan kecerdasan. Dunia membutuhkan intelektual yang berhati — atau meminjam istilah pemikir moral Alasdair MacIntyre dalam After Virtue (1981), manusia yang mengorientasikan pengetahuan pada kebaikan bersama (common good), bukan pada efisiensi semata. Santri dan mahasiswa adalah benih pemimpin masa depan. Dan tugas lembaga pendidikan adalah memastikan benih itu tumbuh menjadi pemikir–penggerak: cerdas, berakhlak, dan mampu menyelesaikan masalah masyarakat.

Pesantren telah berabad-abad menjaga agama, peradaban, dan karakter bangsa — tanpa banyak kompensasi politik. Kini negara membuka lembaran baru: pesantren diberi ruang tumbuh, ruang menyusun masa depan, ruang untuk mengambil bagian dalam pembangunan nasional. Kebangkitan pesantren bukan agenda kelompok. Ia adalah agenda kebangsaan.


Karena melalui pesantren, Indonesia memiliki tiga kekuatan strategis: basis moral yang kuat, solidaritas sosial yang tinggi, dan model pendidikan integral — ilmu, iman, dan akhlak. Dan bila pesantren mampu menggabungkan ekoteologi dan kemandirian ekonomi umat, maka pesantren akan menjadi kekuatan strategis Indonesia di abad ke-21—kekuatan yang menautkan spiritualitas, keberlanjutan, dan keadilan ekonomi. Kita tidak merancang masa depan untuk pesantren. Pesantrenlah yang sedang merancang masa depan untuk Indonesia.

Penulis: Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. - Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


 

(Awaludin)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement