Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jelang Muktamar, Duet Kiai Said Aqil Siroj dan Cucu Pendiri NU Gus Salam Dijagokan Pimpin PBNU

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Selasa, 03 Februari 2026 |21:24 WIB
Jelang Muktamar, Duet Kiai Said Aqil Siroj dan Cucu Pendiri NU Gus Salam Dijagokan Pimpin PBNU
Duet Kiai Said Aqil Siroj dan Cucu Pendiri NU Gus Salam Dijagokan Pimpin PBNU
A
A
A

JAKARTA -Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dibutuhkan duet kepemimpinan mendesak. Pemimpin yang dapat melakukan koreksi dan penataan arah kepemimpinan NU.

Demikian diungkapkan Mustasyar PBNU priode 2021 - 2026, Kiai Asyhari Abdulah Tamrin, Selasa (3/2/2026).

"NU berada pada momentum krusial untuk melakukan koreksi dan penataan arah kepemimpinan,’’ujar  Kiai Asyhari Abdulah Tamrin.

‘’Dinamika internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari ketegangan struktural, melemahnya konsolidasi, hingga polemik yang berdampak pada persepsi publik, menuntut solusi kepemimpinan yang bersifat menyeluruh, meneduhkan dan berjangka panjang,"sambungnya.

Kiai Asyari melanjutkan, pasangan Kiai Said Aqil Siroj sebagai Rais Aam PBNU dan Kiai Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang Jawa Timur, sebagai Ketua Umum PBNU mengemuka sebagai tawaran kepemimpinan yang mendesak.

"Diskursus tersebut tidak dimaksudkan sebagai kampanye personal, melainkan sebagai ikhtiar intelektual-kultural untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu menyelesaikan persoalan mendasar Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Dia berpendapat, konflik dan fragmentasi di tubuh PBNU tidak dapat diurai semata melalui pendekatan administratif atau mekanisme prosedural. Diperlukan figur yang memiliki otoritas moral, kewibawaan keulamaan, dan legitimasi kultural.

 

"Kiai Said Aqil Siroj dengan kedalaman ilmu dan pengalaman panjang dalam memimpin NU dipandang mampu menjadi poros rekonsiliasi, rujukan keagamaan, sekaligus peneduh bagi beragam perbedaan yang berkembang di internal jam’iyyah,’’ujarnya.

Sementara itu, Gus Salam yang merupakan cucu pendiri NU Kiai Bisri Sansuri merepresentasikan figur Ketua Umum PBNU yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan memiliki kedekatan kultural dengan basis warga nahdliyyin.

‘’Gus Salam dipandang memiliki kemampuan menggerakkan pembenahan organisasi secara kolektif," kata KH Asyhari

Rois Syuriah PWNU DIY piode 2006 - 2021 menambahkan,  menata ulang tata kelola PBNU agar lebih tertib, profesional dan berorientasi pada khidmah, bukan konflik.

"Urgensi pasangan ini pada Muktamar NU ke-35 terletak pada kemampuannya menjawab tiga agenda strategis NU sekaligus," ujarnya.

 

Menurutnya, Kiai Said Aqil Siroj dan Gus Salam membawa harapan baru akan kebangkitan NU secara substantif. Suatu kebangkitan yang ditandai dengan soliditas ulama, penguatan peran pesantren, tertibnya organisasi, serta pulihnya kepercayaan publik terhadap kepemimpinan PBNU.

Muktamar ke-35 NU pada hakikatnya bukan sekadar forum pemilihan, melainkan momentum penyembuhan dan pembaruan.

"NU tidak membutuhkan kepemimpinan yang memperpanjang konflik, tetapi kepemimpinan yang mampu menyatukan kembali barisan, merawat tradisi dan menatap masa depan dengan penuh tanggung jawab,"pungkasnya.

(Fahmi Firdaus )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement