"Kita pindahkan penduduk itu 500 meter, jangan dekat pantai. Ketika mereka dipindahkan, naikkan tinggi mereka. Tempat tinggalnya itu. Sudah jauh dari pantai, kita naikkan. Ini tsunami mau datang, mau masak, bodo, saya bilang. Karena ini sudah kita sikapi,” kata Eddy.
Eddy menilai, pendekatan alami ini lebih masuk akal mengingat tidak ada teknologi yang mampu menghentikan mencairnya es di kutub secara instan.
Menurutnya, pembangunan yang terlalu masif, seperti deretan hotel di wilayah Semarang, justru memperparah kondisi karena penyedotan air tanah yang berlebihan dan penurunan muka tanah (subsidence) yang sudah mencapai titik mengkhawatirkan.