Arsitektur demokrasi digital, tegas Romy, tidak akan pernah kuat jika tidak disertai penempaan mental dan karakter pemilih. Quantum encryption dapat mengamankan data, big data dapat menjaga integritas sistem, tetapi tidak ada algoritma yang bisa menggantikan etika warga negara.
Dengan sumber daya yang ada, reformasi pemilu harus berjalan dua kaki, yakni teknologi yang kuat dan manusia yang matang secara mental dan moral.
"Inilah yang saya sebut mental and character building of voters, pemilih yang rasional, berani menolak politik uang, tahan terhadap disinformasi, dan sadar bahwa suaranya adalah amanah konstitusi—bukan komoditas politik," ujarnya.
“Melindungi suara rakyat di era digital adalah tanggung jawab negara dan sejarah kita bersama,” pungkasnya.
(Arief Setyadi )