Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kenapa PKB "Melepas" Maruf Amin dan Yusuf Chudlori?

Opini , Jurnalis-Sabtu, 07 Februari 2026 |14:21 WIB
Kenapa PKB "Melepas" Maruf Amin dan Yusuf Chudlori?
M Sholeh Basyari (Foto: Ist/Okezone)
A
A
A

(Oleh: M Sholeh Basyari, Dosen Pascasarjana Insuri Ponorogo, Direktur Ekskutif Center Strategic on Islamic and international Studies/CSIIS, Jakarta)

SETIDAKNYA dalam seminggu ini, ada dua pergerakan PKB. Pertama, Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin  Iskandar mengajak semua pengurus baru DPW PKB se-Indonesia sowan ke Presiden Prabowo Subianto serta dibumbui dukungan dua periode Prabowo. Kedua, mundurnya mantan Ketua DPW Jawa Tengah (Jateng) KH Yusuf Chudlori dari struktur PKB semua tingkatan.

Dua pergerakan PKB ini terlalu sederhana kalau dimaknai sekadar rotasi rutin dan pengenalan DPW-DPW, belaka. Mundurnya Yusuf Chudlori ideal jika misinya seperti yang disampaikan Sekretaris DPW PKB Jateng, Sukirman, yakni demi penugasan maha penting dari Cak Imin. 

Sementara, langkah Cak Imin men-yowan-kan struktur baru DPW PKB se-Indonesia, lebih sebagai langkah penyelarasan dengan pidato Presiden Prabowo pada retreat semua kepala daerah di Sentul international.convention center: "kalau tidak suka saya, silakan 2029 bertarung".

Cak Imin Menata Bidak

Sebelum Yusuf Chudlori mundur, berapa waktu lalu, Maruf Amin lebih dulu pamit dari Ketua Dewan Syuro DPP PKB. Spekulasi yang berkembang menyebut bahwa Kiai Maruf tengah ambil ancang-ancang kembali ke Kramat Raya. Hal ini paralel dengan ancang-ancang serupa yang dilakukan oleh pengasuh utama pesantren "Asrama Perguruan Islam (APi)" Magelang tersebut.

Dua tokoh tersebut (Maruf Amin dan Yusuf Chodlori), secara karakter, langgam, diksi dan nomenklatur, sejatinya lebih pas berkhidmah di Kramat Raya. Dengan cara baca seperti ini, tampaknya arah dari kerelaan PKB melepas dua kiai grade A ini, bisa jadi adalah terkait kandidasi Rois Aam dan Ketum Tanfidziyah PBNU pada Muktamar ke-35 mendatang. 

Mutasi dan rotasi yang dilakukan Cak Imin (?), tidak berhenti pada cucu Kiai Nawawi al-Bantani dan putra Kiai Chudlori saja. Said Aqil Siradj, Marzuki Mustamar, Abdussalam Shohib serta Imam Jazuli Bima, yang bisa disebut all's Muhaimin men, tengah diutak-utik posisi pasnya.

Dengan komposisi kandidasi Ketum dan Rois Aam PBNU seperti itu, publik lumayan penasaran dengan posisi Said Aqil Siradj. Mandataris Muktamar Makassar dan Jombang ini, besar kemungkinan mengisi pos Ketua Dewan Syuro DPP PKB yang ditinggalkan Maruf Amin. 

Sementara, Marzuki Mustamar dan Abdussalam Shohib, didapuk sebagai Katib Aam dan Sekjen PBNU. Dengan komposisi ini, lantas dimana penempatan Imam Jazuli Bima? 

Pengasuh pesantren Bina Insan Mulia (Bima) ini, tampaknya terlempar dari orbit Cak Imin. Usulan dan dorongannya atas Kafabihi Mahrus, pengasuh Lirboyo  sebagai Rois Aam, mengisyaratkan bahwa dia kehilangan fokus dan gagal menangkap kompas politik yang dikehendaki Cak Imin.

Syaifullah Yusuf, Yahya Tsaquf dan Nusron Wahid

Keleluasaan cak Imin menata dan melempar bidak, menandakan konfidensinya sebagai pemain dan pewaris tunggal kepolitikan warga NU. Dengan penataan bidak-bidak seperti itu, Saiful, Yahya dan Nusron, besar kemungkinan terlempar dari gelanggang.

Syaiful dan Yahya, merepresentasikan produk gagal Muktamar 34 Lampung. Turbulensi, fragmentasi dan friksi, kepengurusan PBNU periode dua tokoh ini, berlangsung sepanjang periode masa khidmat sejak dilantik 2022 hingga sekarang. 

Turbulensi, fragmentasi dan friksi tidak saja menyangkut pemilu dan pilpres, bahkan terjadi terkait hal fundamental jam'iyah: Akademi Kepemimpinan Nasional ( AKN). Warga nahdliyin lebih pilu lagi manakala persolan tambang nyaris menjadi gelombang besar yang potensial menenggelamkan kapal besar: PBNU.

Bagaimana dengan Nusron? Nusron adalah tokoh penting dibalik kemenangan Yahya Tsaquf pada Muktamar Lampung. Nasibnya terkatung-katung akibat badai mutasi dan reposisi yang terjadi berulang terhadap dirinya. Hal ini dimulai dari reposisi dari wakil ketua umum menjadi ketua (biasa) kemudian menjadi ketua lembaga dan akhirnya benar-benar terlempar dari struktur pengurus besar. Akhirnya menteri ATR/BPB ini menemukan pelabuhan baru: Majelis Ulama Indonesia (MUI). 

Penutup

Dalam konteks menata bidak, Cak Imin kadang "kejam", tega dan semena-mena. tetapi justru karena itu, terkait bidakisasi orang perorang, Cak Imin leverage-nya melampaui Gus Dur. Wallahu a'lam

(Arief Setyadi )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement