Secara konseptual, dialog ini dirancang oleh Broto Wardoyo, Dosen dan Ketua Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, sebagai bagian dari riset bersama CIReS–SPF mengenai kebijakan keamanan Jepang dalam perspektif Indonesia dan Asia Tenggara. Ia menilai dialog strategis yang berkelanjutan penting untuk membangun kepercayaan dan mengelola perbedaan kepentingan di tengah kompetisi kekuatan besar.
Broto mengusulkan agar forum ini dilanjutkan secara reguler dengan nama “The Sudirman Dialogue.” Usulan tersebut mengangkat makna simbolik Jenderal Sudirman sebagai representasi perjuangan kedaulatan, kepemimpinan, dan tanggung jawab moral, sekaligus mencerminkan komitmen bersama untuk membangun kemitraan Asia Tenggara–Jepang yang inklusif dan berorientasi masa depan demi stabilitas serta kemakmuran kawasan Asia Pasifik.
(Awaludin)