OTTAWA – Pelaku penembakan yang menewaskan sembilan orang di Tumbler Ridge, Kanada, telah diidentifikasi sebagai Jesse Van Rootselaar. Penembakan tersebut juga melukai setidaknya 25 orang.
Tersangka, yang digambarkan polisi sebagai "seorang wanita mengenakan gaun", menembak mati dua orang di sebuah rumah dan tujuh orang lainnya di sebuah sekolah menengah di kota Tumbler Ridge, British Columbia, pada Selasa (10/2/2026) sore. Tersangka, yang kemudian digambarkan dalam pengarahan polisi sebagai "orang bersenjata", melukai 25 orang lainnya sebelum bunuh diri dengan tembakan.
CTV Kanada mengidentifikasi Van Rootselaar pada Rabu (11/2/2026). Dua jenazah di rumah itu telah diidentifikasi sebagai ibu dan saudara laki-laki Van Rootselaar.
Dilansir BBC, Wakil Komisaris Kepolisian Kerajaan Kanada (RCMP) Dwayne McDonald mengonfirmasi tersangka sebagai Jesse Van Rootselaar, berusia 18 tahun, yang menurutnya adalah penduduk Tumbler Ridge. Polisi mengatakan Van Rootselaar "terlahir sebagai laki-laki secara biologis, yang sekitar enam tahun lalu mulai bertransisi menjadi perempuan, dan mengidentifikasi diri sebagai perempuan."
Beberapa jam sebelum laporan CTV, Juno News, sebuah media sayap kanan, mengklaim telah dihubungi oleh paman Van Rootselaar, yang mengatakan bahwa Jesse adalah seorang transgender.
Laporan yang belum terkonfirmasi di media sosial menghubungkan Van Rootselaar dengan akun Reddit, tempat tersangka diduga menyatakan minat pada senjata api dan transisi menjadi perempuan pada usia 15 tahun.
Serangan ini merupakan penembakan massal paling mematikan ketiga dalam sejarah Kanada. Setidaknya delapan penembakan massal di Amerika Serikat (AS) sejak 2018 dilakukan oleh pria yang mengidentifikasi diri sebagai wanita. Yang terbaru, Robert Westman (23), yang secara legal telah mengubah namanya menjadi "Robin", menembak mati dua orang dan melukai 30 lainnya dalam serangan terhadap sebuah gereja di Minneapolis, Minnesota, Agustus lalu.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney membatalkan rencana perjalanannya ke Jerman setelah penembakan tersebut. Dalam pidatonya pada Rabu, ia menyebut serangan itu sebagai tindakan "kekejaman yang belum pernah terjadi sebelumnya," seraya menambahkan, "apa yang terjadi telah membuat bangsa kita terkejut dan kita semua berduka."
(Rahman Asmardika)