JAKARTA – Militer Amerika Serikat (AS) mengirimkan lebih dari 50 jet tempur, termasuk F-35, F-22, dan F-16, ke Asia Barat, mendekati Iran, dalam 24 jam terakhir, menurut laporan Axios. Pengiriman kekuatan militer besar-besaran itu terjadi di tengah ketegangan dan negosiasi nuklir terbaru dengan Republik Islam tersebut.
Hal ini terjadi bahkan ketika para pejabat AS mengatakan Washington dan Teheran “telah membuat kemajuan dalam pembicaraan nuklir” di Jenewa pada Selasa (17/2/2026). Namun, mereka menekankan bahwa “masih banyak detail yang perlu dibahas,” menunjukkan masih ada kemungkinan bentrokan militer yang akan segera terjadi.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, juga mengatakan bahwa diskusi pada Selasa lebih “konstruktif” daripada putaran pertama yang diadakan di Muscat, Oman, awal bulan ini. Ia mengklaim bahwa kedua pihak telah menyepakati “prinsip-prinsip panduan” untuk kesepakatan potensial mengenai program nuklir Iran.
Negosiasi AS–Iran yang sedang berlangsung terjadi ketika pemerintahan Trump mengerahkan pasukan militer besar-besaran di dekat Republik Islam untuk kemungkinan operasi, di tengah meningkatnya tekanan Washington terhadap Teheran terkait rencana nuklirnya dan penindakan keras terhadap protes Januari lalu.
Dilansir NDTV, AS telah mengirimkan kapal induknya, USS Abraham Lincoln, ke Laut Arab pada akhir Januari di tengah meningkatnya ketegangan. Kemudian, pada minggu pertama Februari, BBC melaporkan bahwa selusin jet tempur F-15, sebuah drone tempur MQ-9 Reaper, dan beberapa pesawat serang darat A-10C Thunderbolt II juga mencapai Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.
Citra satelit juga menunjukkan kapal perusak rudal berpemandu, USS Delbert D. Black, berlayar melalui Terusan Suez di Mesir dari Mediterania ke Laut Merah. Sebuah drone pengintai MQ-4C Triton Angkatan Laut AS juga beroperasi di atas Teluk. Kehadiran pesawat komunikasi E-11A, P-8 Poseidon, dan pesawat pengintai E-3G Sentry serta beberapa pesawat pengintai lain juga dilaporkan di wilayah tersebut sebelumnya. AS bahkan telah mengirimkan kapal induk kedua ke kawasan itu.
Iran juga mengatakan akan menutup sebagian Selat Hormuz – titik penting bagi ekspor energi dari kawasan penghasil minyak terbesar di dunia – selama beberapa jam karena latihan militer. Teheran pernah mengancam akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz di masa lalu, tetapi belum pernah melakukannya.
Menurut Menteri Luar Negeri Iran, Araghchi, Washington dan Teheran masing-masing telah sepakat untuk menyusun dan bertukar teks kesepakatan nuklir sebelum menetapkan tanggal untuk putaran ketiga perundingan. Namun, ia memperingatkan bahwa tahap selanjutnya akan “lebih sulit dan lebih rinci.”
Keberhasilan dalam perundingan dapat membuka jalan bagi kesepakatan penting antara Teheran dan Washington yang akan mencabut sejumlah sanksi berat terhadap industri minyak Iran dan perekonomiannya secara lebih luas, sebagai imbalan atas pembatasan besar pada program nuklirnya.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.