Perang Media: Dua Pertiga dari Pertempuran
Dalam Perang Teluk 1991, khususnya Operation Desert Storm, peran CNN sangat krusial dalam membangun persepsi global tentang perang tersebut. Terlepas dari fungsi jurnalistiknya sebagai penyampai informasi dari lokasi kejadian, media turut membentuk cara dunia memahami konflik.
Di era media digital saat ini, pertempuran di platform media baru menjadi instrumen strategis untuk meraih kemenangan. Dalam perang di Gaza, Israel tidak hanya menargetkan Hamas, tetapi juga infrastruktur media, bahkan jurnalis. Tindakan semacam itu tentu tidak dapat dibenarkan dan melanggar norma serta hukum internasional. Namun dalam konteks propaganda dan pembentukan opini, informasi memang menjadi kunci.
Dalam teori komunikasi, opini publik berangkat dari apa yang disebut Walter Lippmann sebagai “pictures in our heads”—gambaran mental manusia tentang realitas. Manusia merespons bukan pada realitas objektif itu sendiri, melainkan pada citra yang terbentuk dalam pikirannya.
Kita menyaksikan bagaimana Donald Trump hampir setiap hari menyampaikan pandangan dan kebijakan melalui media sosial. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, juga aktif di berbagai platform dengan akun dalam empat bahasa: Persia, Arab, Inggris, dan Ibrani. Ini menunjukkan bahwa di era konvergensi media, hampir tidak ada tokoh dunia yang absen dari media sosial.
Media sosial menjadi alat strategis: membangun personal branding, berkomunikasi langsung dengan publik tanpa perantara, serta menyebarkan pesan secara cepat dan masif. Platform seperti X dan Instagram dimanfaatkan untuk membentuk opini publik, menjalankan kampanye politik, dan menjaga citra global.