Dalam konteks konflik AS–Israel versus Iran, tidak mengherankan jika pusat-pusat media di Teheran menjadi sasaran, sebagaimana dilaporkan sejumlah media Iran. Menurut jurnalis Irak, Sulaiman al-Fahdi, perang media tidak boleh diremehkan karena ia merupakan “dua pertiga dari pertempuran”. Kata-kata dapat mendahului peluru, gambar dapat mengubah kesadaran bangsa, dan rumor dapat mengguncang front tanpa satu tembakan pun dilepaskan.
Menargetkan media bukanlah kebetulan, melainkan strategi untuk meruntuhkan moral, menebar ketakutan, memelintir fakta, dan menciptakan realitas yang menguntungkan pihak tertentu. Pertempuran hari ini berlangsung bukan hanya di darat dan udara, tetapi juga di pikiran dan hati.
Tujuh puluh tahun lalu, dalam karya klasik The Image: Knowledge in Life and Society, Kenneth E. Boulding menegaskan bahwa tindakan manusia didasarkan pada citra tentang realitas, bukan realitas itu sendiri. Perilaku manusia bergantung pada bagaimana ia memandang dunia, bukan semata-mata pada fakta objektif.
Pertanyaannya, apakah faktor citra (image) turut memengaruhi keputusan para pemimpin seperti Trump dan Netanyahu dalam mengambil langkah konfrontatif terhadap Iran? Jawabannya mungkin tidak sederhana.
Yang jelas, melihat eskalasi pertempuran dalam beberapa hari terakhir, sulit memprediksi kapan konflik ini akan berakhir dan bagaimana ujungnya. Namun satu hal yang hampir pasti: postur dan konstelasi politik Timur Tengah ke depan akan sangat berbeda dari hari ini, terutama bagi negara-negara Teluk.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.