Ada pilihan lain, meskipun tak terdengar di ruang-ruang perang. Yakni keberanian untuk berkata enough is enough (cukup sudah!). Cukup dan hentikan menjadikan tanah orang lain sebagai ajang unjuk kekuatan senjata. Seperti yang diingatkan oleh seruan para psikolog dunia, luka perang bersifat lintas generasi. Rasa benci dan trauma diwariskan. Jika kita membiarkan perang ini terus berkobar, maka perdamaian hanya akan menjadi jeda, bukan penyembuhan.
Di tengah gegap gempita berita tentang rudal mana yang berhasil dicegat, kita kehilangan kisah-kisah kecil. Seorang kakek yang kehilangan koleksi buku puisi Hafez di Tehran. Seorang ibu di Tel Aviv yang tak bisa tidur karena anaknya bertugas di perbatasan. Seorang tentara Amerika yang muda dan bingung, jauh dari rumah, bertanya-tanya mengapa dia harus menembak orang yang tidak dikenalnya. Ribuan orang yang mengutuk perang yang terjadi.
Agama-agama besar mengajarkan kasih sayang. Para filsuf sejak era Stoa mengajarkan bahwa manusia adalah warga dunia, apapun agamanya. Namun, dalam medan perang, semua ajaran luhur itu meredup, dikalahkan oleh hasrat kuasa yang tak pernah puas. Mungkin memang benar kata penyair anonim bahwa manusia adalah makhluk yang paling pandai membuat pembenaran untuk kejahatannya sendiri.
Pertanyaan paling mendasar yang bisa kita ajukan adalah masih adakah ruang untuk belas kasih di dunia yang terlalu sibuk menghitung untung rugi? Perang ini cepat atau lambat akan berlalu, menentukan siapa yang tertawa di akhir. Rezim mungkin berganti, peta politik akan digambar ulang. Tapi lubang di hati yang disebabkan oleh ketidakpedulian kita akan tetap menganga. Yang akan dikenang dari peristiwa ini bukanlah siapa yang memenangkan perang, melainkan siapa yang berani merawat kemanusiaan di saat perang sedang berlangsung. Sebab jika kemanusiaan rapuh, bukan karena ia lemah. Ia rapuh karena kita enggan menjaganya.
Di Tehran saat ini mungkin ada seorang nenek yang sedang menyalakan lilin di kamar kosong. Ia berdoa dengan bahasa yang tak dipahami para jenderal. Ia menaikkan doa ke langit bukan untuk kemenangan, namun untuk kepulangan. Dan doa itu, di atas segala kalkulasi politik, tetaplah hal paling manusiawi yang kita miliki. Semoga para jenderal pelaku perang di Israel dan Amerika Serikat masih punya hati untuk mendengarnya. Sebuah harapan yang tampaknya utopis.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.