Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pedang yang Ditempa Mortir 

Opini , Jurnalis-Selasa, 10 Maret 2026 |18:06 WIB
Pedang yang Ditempa Mortir 
Ahmad Setyono (foto: dok ist)
A
A
A

Penulis: Ahmad Setyono - Alumni Ilmu Hubungan Internasional Unair, Magister Ilmu Komunikasi

JAKARTA - “So we've wasted billions & risked a global catastrophe to replace Khamenei with Khamenei, turning the father into a martyr, rally Islamic Republic's base, and force the system to elect a wartime successor—the more hardline, anti-Western son likely to be consumed with avanging the death of his entire family.”

Arta Moeini, pakar politik internasional dan grand strategy Amerika Serikat menegaskan ini hanya beberapa jam setelah terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Ia menilai kegagalan Operation Epic Fury terhadap rezim Iran telah membuktikan ketahanan rezim kepada dunia, dan kini lebih mengakar, radikal, dan berorientasi pada keamanan daripada bulan lalu.

Dan lebih buruk lagi, semua ini sebenarnya telah diprediksi oleh para pemikir realis, pakar Iran, dan intelijen AS, bahwa agresi ke Iran seharusnya dihindari dengan berbagai konsekuensinya. Namun Trump memilih untuk mengabaikan saran mereka dan malah mendengarkan para tokoh pro-perang seperti Lindsey Graham dan Mark Levin. Terpilihnya Mojtaba yang dikategorikan lebih radikal dibanding ayahnya Ali Khamenei dinilai akan sangat menentukan geopolitik Timur Tengah di tengah dan pasca perang. 

Tiga Momentum Penting Perang Israel-AS vs Iran

Ada 3 momentum penting di hari ke-10 perang Timur Tengah yang bisa jadi sangat menentukan arah perang nanti. Pertama, badan yang bertanggung jawab untuk memilih Pemimpin Iran, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Terpilihnya Mojtaha menandai transisi bersejarah dan sangat penting dalam kepemimpinan Republik Islam Iran pada saat perang regional besar dan ketegangan geopolitik.

Momentum Kedua, Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam unggahan di platform Truth Social yang menyebut Iran sebagai "The Loser of the Middle East" hingga menggambarkan Iran sudah 'menyerah' kepada negara-negara tetangganya. Pernyataan Trump ini hanya 24 jam sebelum Mojtaba terpilih. Bahkan Trump juga melontarkan ancaman untuk menggempur Iran lebih keras jika aksi serupa terulang. 

Klaim sepihak Trump ini sebenarnya merespon pernyataan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian ke negara tetangga Teluk terkena imbas serangan Iran. Padahal di balik permintaan maafnya, Pezeshkian mengancam akan menargetkan negara-negara tetangga jika serangan datang dari negara-negara tersebut. Statemen Pezeshkian ini sebenarnya hanya bahasa diplomatis untuk meredakan ketegangan situasi Timur Tengah.

Momentum ketiga yang tak kalah penting adalah eskalasi perang itu sendiri. Terpilihnya Mojtaba sebagai Rahbar atau Supreme Leader ini bersamaan dengan kian intensnya serangan Iran ke Israel. Di Tel Aviv dan seluruh wilayah tengah, Senin dini hari warga telah tanpa listrik selama 5 jam. Pemadaman listrik besar-besaran, rumah sakit menggunakan generator, telepon kehabisan daya, lift macet, jalanan gelap, ketakutan dalam kegelapan. Serangan Iran telah menghantam gardu induk dan infrastruktur listrik utama.

 

Pemimpin Bayangan untuk Estafet Kepemimpinan

Kenaikan Mojtaba ke tampuk kepemimpinan tertinggi dinilai analis dan salah satu Jurnalis terkemuka di Timur Tengah, Ibrahim Majed terjadi pada salah satu momen paling kritis dan bergejolak di kawasan ini, karena perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus meningkat. Dalam situasi medan perang yang buruk saat ini, AS menghadapi seorang Pemimpin Tertinggi yang keluarganya sendiri tewas dalam serangan yang menargetkan para pemimpin tinggi Iran.
Serangan itu menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, serta beberapa anggota keluarga dekat Mojtaba Khamenei, termasuk ibunya, istrinya, saudara perempuannya, dan saudara iparnya. Peristiwa ini sebagai pembunuhan politik bersejarah dan tragedi pribadi yang mendalam yang akan membentuk fase konflik selanjutnya. 

Namun dalam Syiah, menjadi martir atau syahid adalah gugur dalam rangka membela kebenaran, iman, dan keadilan, dengan fokus khusus pada kesetiaan terhadap Ahlulbait (keluarga Nabi) dan perjuangan melawan kezaliman. Konsep syahid memiliki kedudukan teologis yang sangat tinggi dalam tradisi Syiah, tidak sekadar mati dalam perang, melainkan simbol perlawanan aktif terhadap ketidakadilan.

Dalam pidato pertama sebagai Supreme Leader, Mojtaba mengatakan. “hari ini saat kita mengemban amanah kepemimpinan ini, kita berjanji untuk mengikuti jejak para martir kita. Kita berdiri teguh untuk kehormatan, kebebasan, dan martabat.”

Selama ini Mojtaba mempertahankan low profil di publik sembari secara bertahap membangun pengaruh di balik layar dalam lembaga politik dan keagamaan Iran.  Selama 5 tahun terakhir Mojtaba Khamenei telah menjadi pemimpin bayangan sambil menyiapkan diri agar kelak siap meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Iran.

Mojtoba diyakini  secara luas memiliki hubungan yang kuat dengan jaringan ulama dan elemen-elemen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), salah satu elemen strategis dalam struktur kekuasaan di Iran. 

 

Jejak Medan Tempur

Tak hanya ahli di bidang agama (syarat utama Pemimpin Tertinggi), Mojtaba juga memiliki latar belakang militer khusunya Perang Iran-Irak. Pada tahun 1986, ia bertugas di garis depan perang pada usia 17 tahun sebagai sukarelawan dan bagian dari Batalyon Habib bin Mazahir dari Divisi ke-27 Mohammad Rasool-Allah. Mojtaba berpartisipasi dalam beberapa operasi militer besar, termasuk Beyt ol-Moqaddas 2, 3, dan 4,  Valfajr 10 dan Mersad (Pertempuran besar terakhir perang pada tahun 1988).

Menurut Majed, dengan memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran tidak mengakhiri warisan Ayatollah Ali Khamenei, melainkan memperbaruinya. Dalam perspektif tertentu, Khamenei menjadi lebih muda: ideologi yang sama, tekad yang sama, kini diteruskan oleh pemimpin baru dan generasi baru. Menyingkirkan seorang pemimpin tidak mengakhiri sistem, artinya itu hanya membawa pemimpin lain di tempatnya, yang lebih muda, lebih tangguh, dan sama bertekadnya. 

Keyakinan bahwa membunuh seorang pemimpin dapat mengakhiri sebuah gerakan adalah kesalahpahaman sejarah. Gerakan tidak mati bersama individu. Apalagi Mojtaba dikenal beraliran garis keras dan tanpa kompromi. Banyak kalangan sepakat, pembunuhan Ayatullah Ali Khamenei adalah blunder besar dan miskalkukasi yang dibuat Trump dan Netanyahu. Alih-alih ini mendorong jatuhnya rezim Iran, malah menguatkan dukungan rakyat Iran dalam perang ini.
Seperti kutipan Moeini di awal tulisan ini, “jadi kita telah menyia-nyiakan miliaran dan mempertaruhkan bencana global untuk menggantikan Khamenei dengan Khamenei. Menjadikan sang ayah sebagai martir, menggalang basis Republik Islam, dan memaksa sistem untuk memilih penerus di masa perang—putra yang lebih garis keras dan anti-Barat yang kemungkinan besar akan terobsesi untuk membalaskan dendam atas kematian seluruh keluarganya.” Tampaknya Mojtoba akan memimpin Iran dalam perang, seperti ungkapan Douglas MacArthur: "It is fatal to enter a war without the will to win it."
 

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement