"Ketika konsentrasi partikel berukuran sangat kecil meningkat dan berdampak pada meningkatnya prevalensi penyakit pernapasan hingga potensi terjadinya hujan asam,” imbuhnya.
Ia menjelaskan sejumlah studi menunjukkan konsentrasi polutan seperti PM10 di beberapa wilayah masih melampaui ambang batas baku mutu. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga memicu konsekuensi ekonomi berupa meningkatnya biaya kesehatan dan beban anggaran pemerintah.
Bahkan, penelitian juga menunjukkan pencemaran udara di wilayah aglomerasi Jakarta dan sekitarnya berkontribusi terhadap tingginya angka penyakit pernapasan, gangguan kardiovaskular, serta berbagai dampak kesehatan lainnya. Ribuan kasus kematian dini setiap tahun pun disebut tak terlepas dari paparan polusi udara.
"Fakta-fakta ini Bapak/Ibu sekalian menunjukkan bahwa persoalan kualitas udara bukan hanya isu lingkungan semata tetapi juga berkaitan erat dengan aspek kesehatan publik, produktivitas ekonomi serta kualitas hidup masyarakat yang ada di perkotaan," ujarnya.
Yusharto menilai pengendalian pencemaran udara menjadi tantangan karena sifatnya lintas wilayah. Sumber emisi dapat berasal dari berbagai sektor seperti transportasi, pembangkit listrik, industri hingga aktivitas domestik, sementara faktor meteorologis juga memengaruhi penyebaran polutan antar wilayah administrasi.