JAKARTA – Kelompok bersenjata Palestina, Hamas, menyerukan kepada Iran untuk menghentikan serangan terhadap negara-negara Teluk, dalam sebuah seruan langka kepada sekutu utamanya.
Hamas, yang didukung Teheran, mendesak “saudara-saudaranya di Iran untuk menghindari penargetan negara-negara tetangga.” Kelompok itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa semua negara di kawasan harus bekerja sama “untuk menjaga ikatan persaudaraan.”
Pada saat yang sama, Hamas, yang mengelola Gaza, menegaskan hak Teheran untuk membela diri terhadap serangan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang terus menyerang Iran.
Pihak berwenang Iran mengatakan bahwa serangan balasan mereka menargetkan “instalasi Amerika” di wilayah Teluk, bukan negara-negara tetangga itu sendiri—namun banyak serangan telah mengenai infrastruktur sipil.
Hamas menyatakan pada Sabtu (14/3/2026) bahwa mereka mengikuti perang di wilayah tersebut dengan “keprihatinan yang mendalam.”
Mereka menyerukan kepada “semua negara dan organisasi internasional untuk bekerja sama menghentikan [perang] ini segera.”
Iran belum memberikan komentar publik mengenai pernyataan Hamas.
Serangan balasan drone dan rudal Teheran telah dirasakan oleh banyak negara tetangganya di Teluk selama dua minggu terakhir. Setidaknya 18 orang tewas di seluruh wilayah tersebut sejauh ini, sebagian besar personel keamanan atau pekerja asing. Enam orang tewas di Uni Emirat Arab (UEA) dan enam lainnya di Kuwait, sementara Oman, Arab Saudi, dan Bahrain masing-masing melaporkan dua kematian.
Iran adalah pendukung terbesar Hamas dalam hal pendanaan, senjata, dan dukungan politik. Kelompok Palestina tersebut sebelumnya mengutuk pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS–Israel pada hari pertama perang, 28 Februari, sebagai “kejahatan keji.”
Hamas merupakan anggota “poros perlawanan” Iran—sebuah koalisi longgar yang bertujuan melawan pengaruh AS dan Israel. Turki dan Qatar, yang baru-baru ini menjadi sasaran serangan Iran, juga memberikan dukungan finansial dan politik signifikan kepada Hamas.
Kelompok ini melancarkan perang yang menghancurkan melawan Israel di Jalur Gaza selama lebih dari dua tahun. Gencatan senjata yang diberlakukan AS mulai berlaku Oktober lalu, dan negosiasi terus berlanjut mengenai fase-fase selanjutnya dari kesepakatan tersebut. Israel dan Hamas saling menuduh melakukan pelanggaran gencatan senjata hampir setiap hari.
Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas mengatakan 649 orang telah tewas di Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.