Semua ini tidak berarti bahwa Sri Lanka kekurangan daya tawar atau bahwa China mendikte pilihan kebijakannya; Beijing juga bukan satu-satunya kekuatan eksternal yang bersaing untuk mendapatkan pengaruh. India, Jepang, dan Amerika Serikat semuanya telah memperluas keterlibatan sebagai respons terhadap pengaruh Beijing. Yang membedakan peran China adalah skala dan konsentrasi kendali infrastruktur, eksposur pinjaman, dan pengaruh regulasi di zona ekonomi utama.
Oleh karena itu, isu utamanya bukanlah apakah proyek-proyek China telah menghasilkan aset nyata. Pertanyaannya adalah apakah struktur kumulatif pembiayaan, sewa jangka panjang, dan keselarasan diplomatik telah mengubah perhitungan strategis Sri Lanka.
Bagi Kolombo, kemampuan untuk bernegosiasi dengan China dari posisi seimbang, bukan berdasarkan kebutuhan, akan menentukan apakah infrastruktur tetap menjadi alat pembangunan atau pada akhirnya berkembang menjadi kendala strategis jangka panjang.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.