JAKARTA – Sebuah kapal tanker Rusia telah tiba di Kuba untuk mengantar pasokan minyak dalam misi kemanusiaan di tengah blokade Amerika Serikat (AS) terhadap pulau tersebut, yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Blokade AS telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar parah yang memicu pemadaman listrik di Kuba.
Kementerian Energi Rusia melaporkan bahwa kapal Anatoly Kolodkin, yang membawa 100.000 ton minyak mentah, telah berlabuh di Pelabuhan Matanzas, Kuba, dan kini menunggu untuk menurunkan muatan. Ini merupakan pengiriman minyak pertama yang mencapai Kuba sejak Januari.
Tanker tersebut memasuki Kuba beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia tidak memiliki masalah dengan negara-negara, termasuk Rusia, yang mengirimkan pasokan ke Kuba. Pernyataan Trump tersebut tampaknya menandakan pelonggaran blokade minyak de facto yang diberlakukan pemerintahannya terhadap Kuba sejak Januari.
Pekan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa kekurangan bahan bakar yang parah membuat rumah sakit Kuba kesulitan mempertahankan layanan gawat darurat dan perawatan intensif.
Situasi Kuba memburuk dengan cepat sejak 3 Januari, ketika pasukan AS menangkap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro—sekutu setia pemerintah Kuba—yang sebelumnya memasok minyak ke pulau itu dengan persyaratan sangat menguntungkan.
Trump juga mengancam akan mengenakan tarif pada negara mana pun yang mengirim minyak ke Kuba.
Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev mengatakan pada Rabu (25/3/2026) bahwa Kuba "telah menemukan dirinya dalam situasi sulit sebagai akibat dari tekanan sanksi."
"Itulah mengapa saat ini kami mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Kuba," tambahnya.
Minyak yang dibawa kapal tanker tersebut diharapkan dapat memberikan bantuan jangka pendek bagi Kuba.
Pemerintah Kuba, yang dipimpin oleh Presiden Miguel Díaz-Canel, telah melakukan pembicaraan dengan pemerintahan Trump untuk menemukan jalan keluar dari krisis ini. Namun, kedua belah pihak secara terbuka menetapkan sejumlah garis merah politik dan ekonomi yang membuat sulit untuk melihat di mana mereka dapat menemukan titik temu.
Trump baru-baru ini mengatakan bahwa ia dapat "mengambil alih" Kuba, sementara kepemimpinan pulau itu menyatakan menolak segala bentuk perubahan paksa terhadap personel maupun arah politik pemerintahnya.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.