Penulis: Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).
DUA jam sebelum tenggat waktu “penghancuran peradaban Iran dalam semalam” seperti dijanjikan Trump berakhir pada Selasa pagi, 7 April 2026, Amerika Serikat dan Iran telah mencapai gencatan senjata dua minggu guna memulai pembicaraan damai. Ini benar-benar kabar gembira bagi dunia yang sudah harap-harap cemas. Keputusan Trump didasarkan pada percakapannya dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, sebagai mediator, untuk menunda penggunaan kekuatan destruktif ke Iran, dengan syarat bahwa Republik Islam Iran membuka Selat Hormuz secara penuh.
Lebih jauh, Trump menyatakan: “Kami menerima proposal 10 poin dari Iran, dan meyakini bahwa itu merupakan dasar yang dapat dijalankan untuk bernegosiasi. Hampir semua poin perselisihan sebelumnya telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, namun periode dua minggu akan memungkinkan kesepakatan tersebut untuk diselesaikan dan disahkan.”
Amerika Serikat akhirnya tidak jadi menghancurkan peradaban Iran, ketika gencatan senjata dua minggu membuka ruang bagi helaan napas, dan juga ketika negosiasi damai mulai menemukan jalan untuk mencapai perdamaian. Ini adalah momen ketika sejarah memaksa para pelakunya mengakui keterbatasan mereka sendiri. Iran merayakan ini sebagai kemenangan. Di lain pihak, Amerika juga merasa tidak kalah, karena mereka memiliki kemampuan menghancurkan Iran dengan nuklirnya, tetapi berani memilih untuk bernegosiasi. Meskipun skeptisisme tetap ada di kubu Iran, sejatinya kemanusiaanlah yang menang.
Selama berbulan-bulan, AS menyuarakan narasi tegas bahwa Iran harus dilumpuhkan. Infrastruktur strategisnya dianggap target sah, tekanan ekonomi diperketat, dan ancaman penghancuran total bahkan disuarakan tanpa keraguan. Di balik semua itu, ada keyakinan lama bahwa kekuatan militer, jika digunakan secara maksimal, mampu membentuk ulang realitas politik sebuah bangsa dengan perubahan rezim.
Namun, realitas tidak sesederhana itu. Iran tidak runtuh, meskipun berdarah-darah dan terluka. Selain itu, ia tidak kehilangan jati dirinya. Negara itu tetap berdiri tegak sebagai entitas politik yang utuh, dengan satu pesan yang sulit diterima oleh kekuatan besar mana pun: tidak semua bangsa bisa dipaksa menjadi apa yang diinginkan Amerika Serikat.
Di titik inilah perang mulai kehilangan maknanya. Gencatan senjata dua minggu bukanlah hasil dari kesepakatan matang. Amerika Serikat mengajukan ancaman menakutkan dan Iran bergeming. Ia adalah jeda yang lahir dari kebuntuan, tatkala semua opsi militer tidak lagi menjanjikan kemenangan bersih. Maka berhenti dan bernegosiasi menjadi satu-satunya pilihan rasional untuk mewujudkan perdamaian jangka panjang dan stabilitas kawasan.
Amerika Serikat memahami bahwa eskalasi lebih lanjut hanya akan memperluas ketidakstabilan global, mulai dari krisis energi hingga tekanan politik domestik. Iran, di sisi lain, menyadari bahwa bertahan saja tidak cukup; stabilitas jangka panjang membutuhkan ruang untuk menghela napas, membangun kembali, dan menghindari perang berikutnya demi masa depan yang lebih baik.
Dalam kesadaran pahit itulah, poin-poin negosiasi mulai dirumuskan:
Pertama, jaminan non-agresi yang mengikat. Bagi Iran, ini adalah syarat mutlak, di mana tidak ada lagi serangan yang datang tiba-tiba dengan dalih apa pun. Bagi Amerika Serikat, ini adalah cara untuk menutup bab konflik tanpa kehilangan muka. Maka, lahirlah mekanisme verifikasi internasional, yaitu bukan sebagai simbol kepercayaan, tetapi sebagai pengganti dari ketiadaan kepercayaan itu sendiri.
Kedua, pembatasan eskalasi militer di kawasan. Ini mencakup penghentian serangan terhadap infrastruktur sipil dan fasilitas dasar serta penarikan bertahap aset militer strategis. Dalam banyak hal, ini adalah pengakuan bahwa perang telah melampaui batas rasionalitasnya bahwa kehancuran tidak lagi menghasilkan keuntungan politik yang sepadan.
Ketiga, normalisasi terbatas di sektor ekonomi dan energi. Selat Hormuz, yang selama ini menjadi simbol tekanan global, diubah menjadi ruang kepentingan bersama. Stabilitas energi bukan lagi alat tawar, melainkan kebutuhan bersama yang tidak bisa ditunda.
Keempat, pembukaan kanal diplomasi langsung. Setelah bertahun-tahun terjebak dalam komunikasi tidak langsung melalui mediator, Iran dan Amerika Serikat dipaksa untuk berbicara secara terbuka. Ini bukan tentang kehangatan hubungan, tetapi tentang efisiensi konflik yang berujung perang: jika masalah bisa dibicarakan lebih awal, maka eskalasi bisa dicegah.
Kelima, pengakuan kedaulatan politik masing-masing pihak yang berperang. Ini adalah inti dari seluruh kesepakatan. Amerika Serikat harus menerima bahwa Iran tidak akan berubah sesuai dengan desain yang dipaksakan oleh Amerika Serikat. Iran, pada saat yang sama, harus menerima bahwa keterlibatan dalam tatanan global tidak bisa sepenuhnya dihindari. Ini bukan kompromi yang nyaman, tetapi kompromi niscaya.
Namun, yang paling penting bukan detail kesepakatan, melainkan perubahan cara pandang yang melatarbelakanginya. Perang ini menunjukkan bahwa kekuasaan memiliki batas. Bahkan negara dengan kapasitas militer terbesar sekalipun tidak selalu mampu mengendalikan hasil tindakannya sendiri.
Negosiasi perdamaian yang kini dirancang mungkin tidak ideal. Ia penuh ketegangan, luka yang belum sembuh, dan ketidakpercayaan yang masih tersisa. Tetapi justru karena itu, ia memiliki peluang bertahan. Perdamaian yang lahir dari kesadaran akan keterbatasan cenderung lebih jujur dan lebih kuat.
Pungkasannya, pelajaran penting dari drama perang 40 hari ini adalah: menghancurkan lawan bukanlah satu-satunya cara untuk menang. Bertahan tanpa kehilangan jati diri adalah bentuk kemenangan lain yang lebih sulit, tetapi lebih bermakna. Maka, dalam dunia yang terus berubah, keberanian terbesar bukanlah memulai perang, melainkan mengakhirinya, dengan keyakinan bahwa perang hanya menghancurkan kemanusiaan.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.