Herry juga bertemu dengan unit counter terrorism E8 Malaysia, yang mengungkap adanya fenomena baru radikalisasi di kalangan anak muda, termasuk melalui media sosial dan game online. Kedua pihak kemudian sepakat bekerja sama memperkuat pertukaran informasi intelijen untuk mendeteksi dini potensi ancaman tersebut.
“Radikalisasi saat ini berkembang dengan pola baru yang menyasar generasi muda. Oleh karena itu, kerja sama intelijen menjadi sangat penting untuk mencegahnya sejak dini,” ujarnya.
Akhir dari kunjungan tersebut, Herry bertemu dengan Ketua Polis Melaka DCP, Dzulkhairi Mukhtar. Kedua pihak membahas terkait pentingnya memperkuat kerja sama keamanan, penanganan karhutla, terorisme, dan kejahatan lintas negara lainnya.
Abituren Akpol 1996 ini juga menekankan kedekatan historis dan budaya antara Riau dan Melaka sebagai modal sosial dalam membangun kolaborasi yang lebih erat.
“Kita ini satu rumpun Melayu. Silaturahmi bukan sekadar pertemuan, tetapi menjadi jalan untuk menyatukan tujuan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Melalui rangkaian pertemuan ini, Herry pun berkomitmen untuk mendorong terbentuknya sistem kerja sama yang lebih terintegrasi, mulai dari joint intelligence sharing, patroli bersama, hingga pelatihan lintas negara.
“Kami ingin kerja sama ini tidak berhenti pada pertemuan, tetapi berlanjut menjadi aksi nyata di lapangan, demi menjaga keamanan kawasan dan melindungi masyarakat di kedua negara,” tutupnya.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.