Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Emansipasi dalam Dialektika dan Makna Baru Sebuah Kebebasan Dalam Kesetaraan Gender

Opini , Jurnalis-Rabu, 15 April 2026 |12:42 WIB
Emansipasi dalam Dialektika dan Makna Baru Sebuah Kebebasan Dalam Kesetaraan Gender
Ilustrasi. (Foto: Unsplash)
A
A
A

Penulis: Sekar Widyasari Putri Dosen Digital Bisnis Telkom University Surabaya

EMANSIPASI wanita, kalimat yang seakan menjadi sejarah pencapaian kemenangan tentang kesetaraan gender. Layak disebut kemenangan karena membutuhkan perjalanan dan perjuangan dalam mencapainya. Emansipasi menjadi awal kebebasan dan kesetaraan bagi wanita dalam berpendapat, pendidikan, dan karir untuk mencapai kemandirian finansial. Namun di balik narasi kemenangan terdapat realitas yang kompleks. Kebebasan yang selama ini disuarakan oleh wanita ternyata menimbulkan dilema bagi para wanita itu, mereka menghadapi kontradiksi antara peran profesional dan peran keibuan. Dari kondisi tersebut memunculkan pertanyaan kritis, “apakah emansipasi benar-benar mencapai tujuannya atau justru melahirkan tekanan baru?”.

Sejarah mencapai emansipasi dan dilema emansipasi yang terjadi saat ini mengingatkan pada perspektif dialektika yang dipopulerkan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Hegel memiliki pandangan bahwa setiap realitas perubahan sosial adalah sebuah siklus dan selalu dimulai dari konflik antara tesis, antitesis yang menghasilkan sintesis. Dilema emansipasi wanita di era modern tidak dapat dipandang sebagai kontradiksi sederhana, tetapi merupakan bentuk proses historis yang terus berkembang, dapat dikaji sebagai proses dialektika yang belum selesai.

Siklus Dialektika tahap awal (tesis) terlihat pada periode sebelum tahun 1900-an, Indonesia masih di bawah kolonial Belanda terjadi diskriminasi berdasarkan ras, menempatkan orang Eropa pada tingkatan hierarki tertinggi, kemudian Timur asing (Tionghoa, Arab dan India), pada hierarki terendah adalah Inlander (Pribumi). Diskriminasi membatasi akses pada pendidikan yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan Eropa, Timur asing dan Pribumi kaum bangsawan. Budaya lokal sendiri menciptakan diskriminasi melalui patriarki yaitu hanya kaum bangsawan laki-laki yang diperbolehkan mengenyam pendidikan karena dianggap sebagai penerus kepemimpinan. Bahkan dalam budaya Jawa terdapat pandangan bahwa perempuan adalah “konco wingking” yang memiliki makna harafiah “teman belakang” membuat posisi perempuan dianggap tidak sejajar, berada di belakang laki-laki.

Pandangan tersebut akhirnya menciptakan stigma peran perempuan yang dalam bahasa Jawa diistilahkan “macak (bersolek/menjaga penampilan), masak (memasak dan mengurus rumah), manak (mengurus anak)” sehingga tidak perlu pendidikan tinggi. Adat pingitan juga menghambat perempuan menentukan pilihan masa depannya sendiri karena pada usia 10–12 tahun mereka dipingit untuk dipersiapkan menikah. Tatanan sosial yang terbentuk pada masa itu menjadi nilai yang dianut dan menjadi identitas perempuan dalam masyarakat tradisional.

 

Dilema Emansipasi

Sejalan dengan filsafat Hegel bahwa cara menuju kemajuan dimulai dari pertentangan (antitesis). Era R.A. Kartini tahun 1900-an sebelum menikah ia memberikan syarat pada calon suaminya untuk diperbolehkan mendirikan sekolah dan mengajar. R.A. Kartini tidak ingin gender membatasi kesempatan perempuan mendapatkan pendidikan dan berkarir. Buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” merupakan pemikirannya yang maju pada masa itu bahwa Kartini menyuarakan kesetaraan gender melalui perjuangan hak pendidikan bagi perempuan Indonesia. Dari perlawanannya pada tatanan sosial lama memberikan dampak sampai pada hari ini. Fase baru (sintesis) dimulai setelah perjuangan R.A. Kartini, perempuan mendapat kesempatan belajar, kebebasan berpikir dan menentukan pilihan masa depannya. Perempuan mendefinisikan ulang identitasnya di luar rumah. Modernisasi memperkuat identitas baru perempuan yang setara dengan laki-laki dalam pendidikan formal, memiliki karir profesional, memperoleh kemandirian ekonomi dan kebebasan mengambil keputusan atas dirinya sendiri. Sintesis ini tampak seperti kemenangan atas sebuah kebebasan bagi perempuan. Namun kenyataan sekarang sintesis tidak sepenuhnya stabil. Perempuan modern kini menghadapi beban ganda: di satu sisi kebebasan memberikan kesempatan pada ambisi karir, di sisi lain perempuan dituntut menjadi ibu yang ideal.

Pada pekerjaan formal dengan sistem kerja yang tidak fleksibel, membuat perempuan harus “bernegosiasi waktu” antara pekerjaan dan pengasuhan. Menurut penelitian (Gupta et al., 2024) menyatakan bahwa ibu bekerja sering menghadapi konflik antara peran kerja dan keluarga yang memicu stres dan tekanan psikologis. Hasil riset David et al. (2025) yang berjudul “Work-Life Balance: The Key to Employee Engagement and Employee Performance”, menyatakan keseimbangan kehidupan kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan dan produktivitas perempuan. Ketidakseimbangan hidup dan pekerjaan akan berdampak pada performa kerja, kesehatan mental, dan hubungan sosial.

 

Emansipasi tidak sepenuhnya membebaskan perempuan, tetapi juga menempatkan mereka dalam struktur tuntutan yang lebih kompleks. Sebagian perempuan modern mulai mempertanyakan makna emansipasi. Berbagai konten dalam sosial media generasi milenial sebagai wanita karir dan keluarga muda, betapa mereka menampilkan kehidupan kerja dan berumah tangga yang tidak mudah. Generasi Z mulai menanggapi dalam sosial media mereka dengan konten bahwa kehidupan karir ideal bagi perempuan bukanlah yang memberikan kesempatan menjadi pemimpin, tetapi yang memberikan fleksibilitas kerja.

Makna Baru Emansipasi

Makna rasa bangga perempuan juga mulai bergeser: yang sebelumnya bangga ketika menjadi wanita karir, bisa bekerja dan mencapai karir profesional cemerlang tanpa harus terpaku dengan pekerjaan rumah. Sekarang kebanggaan perempuan adalah ketika dia tidak terbelenggu dengan sistem kerja pada pekerjaan formal, hanya fokus dengan urusan rumah tangga tetapi kebutuhan primer, sekunder, dan tersiernya tercukupi. Fenomena tersebut menjelaskan adanya keinginan untuk “kembali ke rumah” atau fokus pada pengasuhan anak tidak lagi dipandang sebagai kemunduran, tetapi sebagai bentuk refleksi kritis terhadap tekanan sistemik yang dihadapi. Walaupun sering disalahartikan sebagai kemunduran, namun dalam perspektif Hegel, ini justru merupakan bagian dari proses dialektika menuju sintesis baru. Sintesis baru bukanlah kembali ke paradigma lama, melainkan membentuk makna baru emansipasi itu sendiri. Emansipasi bukan lagi dimaknai perempuan mampu setara dengan laki-laki jika berpendidikan tinggi, bekerja, dan menduduki jabatan pemimpin. Perempuan dengan karir yang prestisius dianggap lebih superior dan ironisnya sesama perempuan terkadang memandang rendah perempuan yang hanya mengurus rumah, tidak bekerja pada sektor formal.

 

Sekarang emansipasi adalah tentang kebebasan memilih peran tanpa tekanan struktural. Kebebasan perempuan bukan terletak pada apakah ia bekerja atau tidak, melainkan pada kemampuannya menentukan pilihan hidup secara otonom tanpa dibatasi oleh norma sosial yang kaku. Namun pilihan tersebut tidak sepenuhnya bersifat individual. Hasil penelitian Černič Istenič (2025) menunjukkan bahwa keputusan perempuan sangat dipengaruhi oleh bentuk budaya dan ekspektasi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa dilema perempuan modern bukan hanya persoalan personal, tetapi juga persoalan struktural yang membutuhkan solusi bersama. Dengan demikian, peringatan Hari Kartini seharusnya tidak hanya menjadi peringatan, tetapi juga momentum refleksi kritis. Emansipasi bukanlah titik akhir, melainkan proses yang terus berkembang. Dalam kerangka dialektika Hegel, dilema yang dihadapi perempuan modern bukan sebuah kegagalan, justru mengindikasikan bahwa masyarakat sedang bergerak menuju keseimbangan baru yang lebih kompleks. Pertanyaan yang lebih relevan bukan apakah perempuan harus bekerja atau kembali ke rumah, tetapi bagaimana menciptakan sistem sosial yang memungkinkan perempuan menjalankan kedua peran tersebut tanpa kehilangan kualitas hidupnya. Di sinilah tantangan emansipasi masa depan, bukan sekadar membuka akses, tetapi menciptakan keseimbangan.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement