JAKARTA - Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mengungkapkan, ancaman keamanan saat ini tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Menurutnya, ancaman dapat tumbuh perlahan melalui ruang digital, interaksi sosial, budaya visual, hingga paparan informasi yang terus berulang dan memengaruhi cara berpikir seseorang.
Hal tersebut disampaikan Dedi dalam pembahasan buku Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital yang menjadi bagian dari rangkaian Rakernis Densus 88 Antiteror Polri.
Dedi menegaskan bahwa perubahan pola ancaman harus diikuti dengan perubahan cara berpikir serta strategi penanganan.
"Ancaman saat ini bergerak lebih cepat dibanding pola penanganan lama. Karena itu, kita perlu membangun kemampuan membaca gejala lebih awal, memperkuat pencegahan, dan meningkatkan ketahanan masyarakat," ujar Dedi, Kamis (21/5/2026).
Dedi menjelaskan, terorisme selama ini identik dengan jaringan, organisasi, atau aksi yang terlihat. Namun, konsep gamifikasi kekerasan menunjukkan bagaimana ancaman dapat terbentuk, berkembang, lalu bertransformasi di tengah ekosistem digital yang bergerak cepat.
Menurutnya, ancaman ekstremisme modern kini semakin cair, tidak selalu terikat struktur formal, dan kerap berkembang melalui jejaring digital yang sulit dipetakan dengan pendekatan konvensional.
Karena itu, buku tersebut menekankan pentingnya deteksi dini, literasi digital, perlindungan anak, penguatan sekolah dan keluarga, serta kolaborasi lintas sektor sebagai bagian dari strategi pencegahan jangka panjang.
Di sisi lain, Dedi menegaskan negara tidak boleh hanya hadir ketika ancaman sudah membesar.
“Pencegahan harus datang lebih awal, sementara penegakan hukum menjadi langkah terakhir yang dilakukan secara terukur,” pungkasnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.