Meski demikian, Herman mengatakan pengalaman traumatis tersebut tidak membuat dirinya dan rombongan merasa paling berjasa bagi Palestina. Dia menilai penderitaan yang dialaminya tidak sebanding dengan kondisi warga Palestina di Gaza yang sebenarnya.
“Tapi semua ini insyaallah tidak menjadikan kami menjadi orang yang merasa paling berjasa. Hanya yang sangat kecil sekali yang kami lakukan untuk Palestina,” katanya.
“Coba lihat, saudara kita di Palestina jauh lebih menderita dibandingkan dengan apa yang kami alami. Kami ini hanya debu-debu yang beterbangan yang tentu tidak patut untuk berbangga, tidak patut untuk menjadi orang yang merasa penting,” ucapnya.
Herman berharap pengalaman pahit itu dapat semakin menggelorakan semangat solidaritas internasional untuk kemerdekaan Palestina. Dia menyebut peserta misi kemanusiaan tersebut berasal dari puluhan negara.
“Tapi mudah-mudahan ini bisa menggelorakan semangat membebaskan Palestina di seluruh dunia karena teman-teman kami semuanya berasal dari berbagai macam negara. Ada sebanyak 52 negara yang bergabung di situ, yang semua bergerak bukan karena agama tetapi karena rasa kemanusiaan. Ada dari Amerika, Prancis, dan semuanya. Semuanya disiksa dengan kondisi yang sama, tidak ada pengecualian sedikit pun dari negara mana pun,” katanya.