Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

AS Kembali Gempur Iran Usai Insiden Helikopter Apache di Selat Hormuz

Awaludin , Jurnalis-Rabu, 10 Juni 2026 |07:42 WIB
AS Kembali Gempur Iran Usai Insiden Helikopter Apache di Selat Hormuz
Helikopter AH-64 Apache terbang di atas Selat Hormuz (foto: CENTCOM/AFP)
A
A
A

WASHINGTON – Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran, setelah Presiden Donald Trump menuduh Teheran menembak jatuh helikopter militer Apache milik AS yang tengah berpatroli di Selat Hormuz.

Melalui unggahan di media sosial pada Selasa 10 Juni 2026, Trump mengklaim bahwa sebuah helikopter Apache AS ditembak jatuh oleh Iran. Meski demikian, dua pilot yang berada di dalam pesawat tersebut berhasil diselamatkan dan tidak mengalami luka.

"Saya baru saja diberitahu oleh militer kita, bahwa tadi malam Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache kita yang sangat canggih saat berpatroli di atas Selat Hormuz. Ada dua pilot yang terlibat, keduanya selamat dan tidak terluka. Namun, Amerika Serikat tentu harus menanggapi serangan ini," tulis Trump, seperti dilansir dari Aljazeera, Rabu (10/6/2026).

Beberapa jam setelah pernyataan tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran yang disebut sebagai tindakan membela diri.

Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah lokasi di Iran selatan, termasuk di kota pelabuhan Sirik yang berada di dekat Selat Hormuz. Militer AS mengonfirmasi serangan dilakukan sekitar pukul 17.00 waktu setempat.

CENTCOM menyatakan, operasi tersebut merupakan respons yang dinilai proporsional terhadap dugaan agresi Iran.

"Misi ini merupakan respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan," demikian pernyataan CENTCOM.

 

Eskalasi terbaru ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang dicapai pada 8 April lalu antara AS dan Iran. Kesepakatan tersebut sebelumnya berhasil menghentikan sementara konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, meskipun dalam beberapa pekan terakhir terus diwarnai insiden militer di kawasan.

Hingga saat ini, Iran belum mengonfirmasi maupun membantah tuduhan bahwa pihaknya menembak jatuh helikopter Apache tersebut. Namun Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa keberadaan pasukan AS di kawasan menjadi sumber ketegangan yang harus diakhiri.

"Selat Hormuz bukan perairan internasional. Itu adalah perairan yang dimiliki bersama oleh Iran dan Oman. Angkatan Bersenjata kami selalu siaga terhadap setiap pelanggaran wilayah udara, darat, maupun perairan Iran," ujar Araghchi.

Setelah serangan AS dilanjutkan, Araghchi memperingatkan bahwa Iran tengah menyiapkan respons balasan. Ia juga kembali mendesak pasukan AS untuk meninggalkan kawasan tersebut.

"Meskipun mengalami kekalahan di medan perang, AS memilih menguji tekad kami. Angkatan Bersenjata kami tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa balasan," katanya.

 

Ketegangan antara kedua negara meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, militer AS mengaku telah melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak Iran di kawasan Teluk. Di saat yang sama, konflik antara Iran dan Israel juga kembali memanas setelah saling melancarkan serangan rudal dan serangan udara.

Para pejabat Iran berulang kali menuding kehadiran militer AS di kawasan serta operasi militer Israel sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada April lalu.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan menegaskan bahwa Teheran siap kembali menghadapi konflik jika diperlukan.

“Kami lebih memilih bahasa diplomasi, tetapi kami jauh lebih fasih menggunakan bahasa lain. Jika komitmen dilanggar, kami akan menggunakan bahasa yang paling kami kuasai,” tulis Ghalibaf melalui platform X.

Sementara itu, Direktur Program Studi Timur Tengah Universitas Georgetown, Sina Azodi, menilai Iran berupaya meningkatkan tekanan terhadap Washington agar segera mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik secara menyeluruh.

Menurut Azodi, Teheran memahami bahwa konflik berkepanjangan tidak mendapat dukungan luas di Amerika Serikat dan memanfaatkan situasi tersebut untuk memperkuat posisi tawarnya dalam proses diplomasi.
 

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement