Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

3 Singa di Bonbin Tokyo Mati Imbas Suhu Panas Ekstrem Jepang

Rahman Asmardika , Jurnalis-Rabu, 05 Agustus 2026 |13:24 WIB
3 Singa di Bonbin Tokyo Mati Imbas Suhu Panas Ekstrem Jepang
Hasil autopsi menunjukkan dehidrasi sistemik dan kegagalan multisistem organ pada ketiga singa tersebut. (Foto: Tokyo Zoological Park Society)
A
A
A

TOKYO - Tiga ekor singa betina di sebuah kebun binatang Tokyo mati akibat dugaan penyakit yang dipicu oleh suhu panas. Kabar menyedihkan ini muncul di tengah upaya Jepang menghadapi suhu musim panas yang ekstrem.

Ketiga singa tersebut mati dalam kurun waktu satu minggu di Taman Zoologi Tama, Tokyo bagian barat. Pihak kebun binatang menyatakan bahwa hasil autopsi terhadap singa-singa yang berusia antara tiga hingga 15 tahun itu menunjukkan adanya dehidrasi dan kegagalan multiorgan, yang mengindikasikan suhu panas sebagai penyebabnya.

"Ini adalah kali pertama kami mengalami kejadian seperti ini. Tahun lalu cuaca juga panas, namun tidak ada singa kami yang jatuh sakit seperti ini," ujar Miwa Kosaka, perwakilan kebun binatang kepada BBC.

Musim panas di Jepang kini semakin panas dan berbahaya; beberapa kota bahkan mengalami sejumlah hari dengan "panas ekstrem"—istilah yang digunakan untuk hari-hari saat suhu melonjak hingga di atas 40 derajat Celsius.

Menurut pihak Kebun Binatang Tama, Mugi, seekor singa betina berusia tiga tahun, kehilangan nafsu makan pada 19 Juli dan tidak mampu berdiri keesokan harinya. Staf kebun binatang berupaya mendinginkan tubuhnya dengan menyediakan ventilasi dan air, serta memberikan cairan melalui suntikan subkutan (di bawah kulit), tonik hati, dan vitamin. Namun, ia akhirnya mati pada 28 Juli.

Ichigo, singa betina berusia 11 tahun, mati beberapa hari kemudian pada 31 Juli. Sementara itu, Luena, singa betina berusia 15 tahun, mati pada Minggu, 2 Agustus.

Pihak kebun binatang menyatakan bahwa hasil autopsi menunjukkan adanya dehidrasi sistemik dan kegagalan multiorgan pada ketiga singa tersebut, yang mengisyaratkan bahwa stres akibat panas menjadi penyebabnya. Mereka menambahkan bahwa penyebab pasti kematian baru dapat dipastikan setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

 

Ada tiga ekor singa—dua jantan dan satu betina—yang "masih sakit dan tidak mampu berdiri", demikian pernyataan pihak kebun binatang pada Senin (3/8/2026) seraya menambahkan bahwa staf mereka sedang memberikan cairan, obat-obatan, dan vitamin kepada hewan-hewan tersebut.

"Beberapa singa menunjukkan tanda-tanda membaik," ujar Kosaka kepada BBC.

Empat ekor singa telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan, kata pihak kebun binatang, sementara enam ekor lainnya dalam kondisi sehat sejak awal. Mereka akan ditempatkan di kandang khusus yang dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC) portabel dan kipas angin industri.

Hideaki Karaki, seorang profesor kedokteran hewan di Universitas Tokyo, mengatakan kepada media setempat bahwa kelembapan udara yang tinggi menyulitkan singa untuk mengatur suhu tubuh mereka.

Ia menjelaskan bahwa alih-alih berkeringat, singa menarik napas dalam-dalam untuk mengeluarkan kelembapan dari saluran pernapasan mereka. Saat kelembapan tersebut menguap, suhu tubuh pun turun.

Namun, suhu tubuh singa tidak dapat turun secara memadai dalam kondisi kelembapan tinggi, ujarnya.

Faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah lonjakan suhu yang tiba-tiba pada pertengahan Juli, sehingga hewan-hewan tersebut tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi dengan suhu panas, tambah Karaki.

Kebun Binatang Tama menampung sekitar 260 spesies hewan. Singa-singa di sana telah lama menjadi daya tarik utama, karena telah dikembangbiakkan dan dipamerkan sejak tahun 1964. Menurut situs web kebun binatang tersebut, tersedia layanan bus bergaya safari bagi pengunjung untuk melihat singa-singa itu di dalam kandang mereka.

 

Kebun Binatang Tama bulan lalu mengumumkan akan menangguhkan pameran singa dan layanan bus singa karena "gelombang panas mendadak" yang menyebabkan singa-singa jatuh sakit.

Lebih dari 43.000 orang di seluruh Jepang telah dilarikan ke rumah sakit akibat sengatan panas (heatstroke) pada musim panas ini saja.

Pemerintah telah mengeluarkan peringatan terkait suhu panas dan mengimbau warga untuk melakukan langkah-langkah agar tetap sejuk, termasuk mendorong pekerja kantoran untuk meninggalkan pakaian formal dan beralih ke pakaian yang lebih sejuk dan nyaman.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement