Perdana Menteri China Li Qiang mengunjungi lokasi tersebut pada Kamis, untuk memantau "upaya penyelamatan dan bantuan darurat, serta menemui petugas penyelamat dan warga terdampak".
Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, mengunjungi sejumlah wilayah yang paling parah terdampak pada Kamis.
Shah menginstruksikan pihak berwenang setempat untuk "memberikan bantuan segera kepada keluarga-keluarga yang mengungsi" dan membuka akses jalan yang terputus, demikian pernyataan dari kantornya, sebagaimana dilansir AFP.
Warga asing yang kehilangan kontak tersebut antara lain berasal dari India, Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, menurut badan pariwisata Nepal.
Hantaman lumpur dan puing yang datang tiba-tiba itu "bagaikan tsunami darat", yang bergerak sejauh hampir 170 kilometer ke arah selatan wilayah Nepal, ujar sejarawan lingkungan Ruth Gamble dari Universitas La Trobe, Australia.
Rasuwa, yang terletak di bagian utara Nepal, merupakan distrik pertama yang terdampak, namun laporan korban jiwa juga datang dari wilayah yang jauh di selatan, yakni Chitwan, di perbatasan dengan India.
Pejabat pemerintah China di Tibet mengerahkan hampir 800 petugas tanggap darurat, serta anjing pelacak dan perahu cepat untuk membantu upaya penyelamatan, menurut kantor berita resmi Xinhua. Janji pemberian bantuan dan dukungan segera mengalir tak lama setelah laporan mengenai besarnya skala bencana tersebut tersiar.
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah menyatakan pihaknya sedang mengirimkan pasokan darurat, termasuk selimut, perlengkapan pertolongan pertama, tandu, dan kantong jenazah.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.