Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Bahaya Abu Vulkanik bagi Penerbangan, Bisa Sebabkan Mesin Pesawat Mati

Binti Mufarida , Jurnalis-Senin, 07 September 2026 |08:56 WIB
Bahaya Abu Vulkanik bagi Penerbangan, Bisa Sebabkan Mesin Pesawat Mati
Ilustrasi.
A
A
A

JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau memuntahkan abu vulkanik yang tidak sekadar mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menjadi ancaman mematikan bagi keselamatan dunia penerbangan. Berbeda dengan awan presipitasi biasa, material vulkanik yang terlontar ke udara ini memiliki daya rusak tinggi yang mampu melumpuhkan komponen vital pesawat, bahkan menyebabkan mesin mati total di udara.

“Abu vulkanik tidak terdiri dari tetesan air atau kristal es, melainkan fragmentasi batuan mikroskopis, silika SiO2, serta kristal mineral berujung tajam yang bersifat sangat abrasif,” ungkap Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (6/9/2026).

Daryono mengatakan, ketika pesawat terbang melintasi awan abu pada kecepatan jelajah tinggi, gesekan partikel-partikel keras ini secara mekanis mengikis permukaan kaca kokpit hingga menjadi buram (pitting/sandblasting). Partikel ini juga merusak sensor dinamika udara seperti pitot tube yang mengukur kecepatan udara, serta mengikis bilah turbin dan lapisan pelindung mesin jet.

“Bahaya paling krusial terletak pada dinamika termal di dalam mesin turbofan pesawat. Suhu ruang bakar mesin jet saat beroperasi dapat mencapai 1.400°C hingga 2.000°C, jauh melampaui titik leleh senyawa silika dalam abu vulkanik yang meleleh di kisaran 1.100°C,” jelasnya.

Daryono kembali memaparkan bahwa ketika abu vulkanik terhisap masuk ke dalam mesin, partikel silika tersebut meleleh secara mendadak, mengalir, lalu membeku kembali menjadi kerak kaca (silicate glass coating) saat melewati bagian turbin yang lebih dingin. Penumpukan kerak kaca ini menyumbat nosel aliran udara dan mengganggu aerodinamika bilah turbin, yang berujung pada terhentinya aliran udara (engine stall) hingga hilangnya pembakaran internal secara total (flameout).

“Selain kerusakan mekanis dan termal, abu vulkanik juga memicu gangguan sistemik pada navigasi dan kelistrikan pesawat. Gesekan antarpartikel abu halus yang terlempar dengan kecepatan tinggi menimbulkan muatan listrik statis ekstrem, memicu fenomena St. Elmo's Fire di kaca kokpit serta gangguan interferensi frekuensi radio komunikasi,” kata Daryono.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement