Subhan menjelaskan, pada 2023 jamaah terakhir meninggalkan Muzdalifah hampir pukul 14.00 WIB. Kondisi itu membuat jamaah berada cukup lama di lapangan terbuka yang terpapar panas matahari. Space jamaah di Muzdalifah pada 2023 disebut hanya sekitar 0,30 meter per orang.
Sementara pada 2024, area untuk jeamaah Indonesia justru berkurang sekitar 2 hektare karena digunakan untuk pembangunan tambahan toilet. Akibatnya, space jamaah menyusut menjadi sekitar 0,28 meter per orang.
"Jadi kalau mereka berdiri tidak bisa lurus," tanya Mellisa.
"Ya satu kaki lah kira-kira," jawab Subhan.
Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan penerapan Murur. Melalui skema itu, jamaah lansia dan jamaah dengan kebutuhan khusus diberangkatkan lebih awal dari Muzdalifah, melintas tanpa turun, kemudian langsung menuju Mina.
Subhan mengatakan skema tersebut mempercepat pergerakan jamaah. "Di 2024 itu jam 07.00 lewat sedikit jamaah sudah bersih di Muzdalifah, sehingga tidak mengalami panas teriknya matahari di Muzdalifah," katanya.
Dalam dokumen rapat koordinasi Musytasyar Dini pada 9 Juni 2024 yang ditunjukkan penasihat hukum, skema Murur disebut menyasar sekitar 25% dari jumlah jamaah dan petugas haji atau sekitar 55.000 orang.
Subhan mengatakan dirinya tidak mengetahui secara persis pembagian angka tersebut. Namun, menurut dia, dari perspektif operasional, pengurangan jumlah jamaah yang berada di Muzdalifah sejak awal diperlukan untuk mengendalikan kepadatan.
"Kalau itu bisa digerakkan lebih awal meninggalkan Muzdalifah, maka kondisi Muzdalifah lebih rasional lah, lebih nyaman," ujar Subhan.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.