Berbagai masalah tersebut juga telah menghambat upaya pemerintah dalam memerangi wabah, sekaligus meningkatkan ketidakpercayaan dan kemarahan masyarakat terhadap langkah-langkah pencegahan yang disarankan.
Menurut otoritas kesehatan Kongo, Marie-Celestin Karondwa—penjabat ketua komite eksekutif federal partai UDPS di Butembo—diserang oleh warga setempat setelah tampil dalam sebuah acara radio yang membahas langkah-langkah pencegahan Ebola.
Dalam laporan kasus terbaru mereka, pihak berwenang menyoroti "kapasitas yang rendah" untuk menangani kasus di pusat-pusat kesehatan di Provinsi Ituri, serta melaporkan "kekurangan total" stok vaksin eksperimental untuk jenis virus Bundibugyo di Provinsi Tshopo yang terletak di timur laut, wilayah tempat sejumlah kasus telah tercatat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa wabah ini "masih jauh dari kata berakhir" dan diperkirakan akan melampaui skala wabah Ebola di Afrika Barat pada tahun 2014-2016. Wabah tersebut menelan korban jiwa lebih dari 11.000 orang, terutama di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.
Pekan lalu, Amerika Serikat mengumumkan akan mengucurkan dana tambahan sebesar USD267 juta untuk membantu penanganan Ebola. Pihaknya berharap adanya komitmen bantuan dari negara-negara lain guna mencapai target dana sebesar USD2 miliar untuk memerangi penyakit yang utamanya menjangkiti wilayah Republik Demokratik Kongo (DRC) ini.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.