MAROKO — Raja Mohammed VI dari Maroko menunjuk Menteri Perencanaan Kota Fatima Ezzahra Mansouri sebagai perdana menteri, pada Selasa 29 September 2026. Penunjukan tersebut menjadikan pengacara berusia 50 tahun itu sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi perdana menteri di kerajaan Muslim tersebut.
Mansouri, yang hingga pencalonannya juga menjabat sebagai Wali Kota Marrakech, ditugaskan untuk membentuk pemerintahan baru. Melansir AP, Istana Kerajaan Maroko menyampaikan penunjukan tersebut dalam sebuah pernyataan.
Pengumuman itu disampaikan empat hari setelah hasil pemilihan parlemen diumumkan. Partai Otentisitas dan Modernitas (PAM) yang berhaluan tengah dan dipimpin Mansouri menjadi partai dengan perolehan suara terbanyak dalam pemilihan tersebut.
Mansouri menjadi perempuan kedua yang menjabat sebagai perdana menteri di dunia Arab setelah Najla Bouden di Tunisia. Ia diperkirakan akan membangun koalisi dalam beberapa hari mendatang untuk membentuk pemerintahan. Sistem pemilihan di Maroko membuat satu partai sulit memperoleh mayoritas mutlak.
Pemerintahan Mansouri diharapkan melakukan investasi miliaran dolar terkait dengan Piala Dunia FIFA 2030. Pemerintahannya juga akan berupaya memenuhi sejumlah janji, termasuk memerangi inflasi, menaikkan upah, dan menciptakan lapangan kerja.
Konstitusi Maroko memberikan raja, sebagai otoritas tertinggi negara, kewenangan untuk menunjuk perdana menteri. Namun, perdana menteri harus berasal dari partai yang memperoleh kursi terbanyak dalam pemilihan parlemen.