Dalam konteks ini, kemungkinan Suriah membantu Saudi menandai perubahan orientasi yang perlu dilihat lebih jauh. Pemerintahan baru di Damaskus berupaya membangun hubungan yang baik dengan negara-negara Teluk, memperoleh dukungan bagi rekonstruksi nasional, dan juga memperluas legitimasi internasionalnya. Carnegie Endowment for International Peace juga mencatat bahwa negara-negara Teluk telah mengubah pendekatan mereka terhadap Suriah pasca-Assad, dengan menekankan hubungan ekonomi dan politik, yang menjadi bagian penting dari strategi regional mereka.
Namun, perubahan aliansi tidak serta-merta menghapus kepentingan nasional yang kompleks. Suriah masih harus memulihkan institusi negara, mengatasi kerusakan akibat perang berkepanjangan, dan membangun stabilitas internal. Dalam hal ini, keterlibatan Suriah dalam konflik Yaman berpotensi membuka kembali persoalan yang justru ingin ditinggalkan Damaskus.
Salah satu persoalan mendasar dalam perang Yaman adalah kecenderungan menjelaskan konflik melalui dikotomi Sunni-Syiah. Houthi berakar pada tradisi Zaidiyah, cabang Syiah yang memiliki sejarah panjang di Yaman. Sementara itu, Arab Saudi merupakan negara yang mayoritas penduduknya Sunni dan memiliki kedudukan penting dalam dunia Islam.
Namun, menjelaskan perang ini semata-mata sebagai pertarungan Sunni melawan Syiah merupakan simplifikasi yang berbahaya. Houthi memiliki agenda politik dan kepentingan domestik sendiri. Demikian pula, kebijakan Saudi tidak hanya berkaitan dengan identitas keagamaan, tetapi juga keamanan perbatasan, pengaruh regional, dan stabilitas jalur perdagangan.
Karenanya, apabila Suriah memberikan bantuan militer kepada Saudi, maka langkah tersebut tidak semestinya ditafsirkan sebagai mobilisasi kolektif negara-negara Sunni melawan kelompok Syiah. Tafsir yang demikian berisiko memperkuat polarisasi sektarian dan mengaburkan persoalan utama, yaitu bagaimana menghentikan kekerasan serta membangun tatanan politik Yaman yang inklusif.
Suriah sendiri memiliki pengalaman getir ketika identitas sektarian, intervensi asing, dan kompetisi geopolitik saling memperkuat di lapangan.
Pengalaman tersebut semestinya menjadi pelajaran bahwa kemenangan militer tidak selalu menghasilkan perdamaian yang berkelanjutan. Dukungan Suriah kepada Arab Saudi, apabila benar-benar diwujudkan dalam bentuk kerja sama pertahanan yang terbatas, dapat dipahami sebagai upaya membangun hubungan bilateral baru. Akan tetapi, pengerahan pasukan ke medan perang yang kompleks merupakan persoalan berbeda. Langkah tersebut akan membawa risiko korban jiwa, beban ekonomi, dan keterlibatan dalam konflik yang akar persoalannya tidak mudah diselesaikan melalui kekuatan bersenjata.