WHO melaporkan Yaman telah mencatat 8.034 kasus dugaan kolera, dan 27 kematian sepanjang tahun ini. Sekitar seperempat dari total kasus dugaan tersebut terjadi dalam empat pekan terakhir.
Lima provinsi di wilayah barat daya yang menampung banyak pengungsi, yakni Abyan, Lahij, al-Dhalea, Taiz, dan Aden, menyumbang 92 persen dari keseluruhan kasus yang dilaporkan.
Penyebaran penyakit tersebut juga telah mencapai kamp-kamp pengungsi terpencil di Hadramout, wilayah timur Yaman. Lokasi yang sulit dijangkau menjadi tantangan tersendiri bagi tim medis dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Respons Darurat Kekurangan Dana
Kolera telah berulang kali merebak di Yaman selama bertahun-tahun konflik berlangsung. Pada 2024, WHO memperingatkan bahwa negara tersebut menghadapi salah satu beban wabah kolera tertinggi di dunia.
Sebelumnya, gelombang besar kolera pada 2017 menginfeksi ratusan ribu orang dan menyebabkan sedikitnya 2.000 kematian.
Yaman juga masih menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Kerawanan pangan dan penyebaran penyakit semakin meningkat sejak pertempuran antara kelompok Houthi dan pemerintah kembali berkobar pada Juli, mengakhiri empat tahun ketenangan yang rapuh.
Kolera merupakan infeksi usus akut yang menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi bakteri *Vibrio cholerae*. Kontaminasi dapat terjadi melalui tinja, terutama ketika akses terhadap air bersih dan sanitasi tidak memadai.