Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

KMP Batumandi Terbakar, Penyelamatan Orang Prioritas yang Tak Bisa Ditawar

Arief Setyadi , Jurnalis-Jum'at, 23 Oktober 2026 |09:21 WIB
KMP Batumandi Terbakar, Penyelamatan Orang Prioritas yang Tak Bisa Ditawar
KMP Batumandi terbakar di dekat Pelabuhan Merak (Foto: Puteranegara Batubara/Okezone)
A
A
A

JAKARTA — Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Batumandi terbakar di dekat Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, pada Selasa 20 Oktober 2026. Seluruh penumpang berhasil dievakuasi dengan selamat.

Koordinator Komunitas Pengguna Kapal Penyeberangan Nusantara (KPK-PN), Maruly Hendra Utama, mengapresiasi penanganan KMP Batumandi oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Menurutnya, respons darurat harus dinilai secara menyeluruh, mulai dari keselamatan penumpang dan awak kapal, pengendalian kebakaran, mitigasi pencemaran laut, hingga kepatuhan terhadap prosedur investigasi.

Keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama dalam setiap insiden pelayaran. Berdasarkan informasi yang dihimpun KPK-PN, seluruh penumpang berhasil dievakuasi, meskipun tiga orang dilaporkan mengalami cedera dan mendapatkan penanganan medis.
 
“Penyelamatan jiwa merupakan prioritas yang tidak bisa ditawar. Ketika penumpang berhasil dievakuasi dan mendapatkan pertolongan medis, hal tersebut menjadi bagian penting dari keberhasilan respons darurat. Kita harus memberikan apresiasi kepada awak kapal dan seluruh unsur yang terlibat, sekaligus memastikan evaluasi dilakukan agar kesiapsiagaan semakin kuat,” ujar Maruly dalam keterangannya, dikutip Jumat (23/10/2026).

Ia menegaskan, penanganan kapal terbakar membutuhkan pertimbangan teknis yang cermat dan bukan perkara sederhana. Ada aspek keselamatan manusia, potensi rambatan kebakaran, stabilitas kapal, kondisi angin dan arus, serta kelancaran operasional pelabuhan.

"Karena itu, lokasi harus ditentukan berdasarkan kondisi aktual dan penilaian teknis, bukan semata-mata pertimbangan kemudahan,” ujarnya.

Kapal yang akhirnya tenggelam, menurut Maruly, tidak serta-merta menunjukkan kegagalan penanganan darurat. Kerusakan lambung, masuknya air laut, air pemadam yang terkumpul, gangguan stabilitas, hingga kerusakan sistem permesinan dan kemudi dapat memengaruhi kondisi kapal. 

“Apabila sebuah kapal akhirnya tenggelam setelah mengalami kebakaran, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa seluruh penanganan daruratnya gagal. Harus dibedakan antara upaya menyelamatkan manusia, upaya mengendalikan kebakaran, dan kemampuan mempertahankan kondisi fisik kapal. Ketiganya berkaitan, tetapi memiliki indikator penilaian yang berbeda,” ujarnya.

Adapun penyebab pasti insiden harus ditentukan melalui pemeriksaan teknis dan investigasi pihak berwenang, termasuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Maruly pun kembali menekankan, bahwa keselamatan penumpang, mitigasi pencemaran laut menjadi aspek penting dalam penanganan insiden. 

Berdasarkan keterangan ASDP mendapat dukungan pihak terkait, termasuk Pertamina di sekitar Pelabuhan Merak, untuk memasang oil boom dan menyiapkan oil skimmer guna mengantisipasi penyebaran tumpahan minyak. 

“Langkah antisipasi pencemaran harus diapresiasi karena risiko insiden kapal tidak berhenti pada kebakaran. Ada kemungkinan kebocoran minyak dan dampak terhadap lingkungan laut. Kesiapan oil boom dan oil skimmer merupakan bagian dari mitigasi yang penting, sepanjang ditempatkan dan dioperasikan sesuai kondisi di lapangan,” katanya.

Maruly turut menilai persiapan melibatkan perusahaan penyelamatan kapal atau salvage company penting untuk mengantisipasi penanganan lanjutan, termasuk pengamanan kapal, penanganan kebocoran, dan kemungkinan pengangkatan kapal. “Penanganan yang baik bukan hanya merespons bahaya yang sedang terjadi, tetapi juga mengantisipasi risiko berikutnya. Evakuasi, pengendalian kebakaran, perlindungan lingkungan, dan persiapan salvage merupakan rangkaian yang harus dikelola secara terkoordinasi,” ujarnya.

Terkait proses investigasi, ia mengingatkan agar pemindahan kapal dilakukan melalui penilaian risiko dan koordinasi dengan pihak berwenang. Kapal yang terbakar dapat menyimpan bukti penting untuk mengungkap sumber api, pola penyebaran kebakaran, kondisi sistem keselamatan, dan faktor penyebab lainnya. 

“Jangan sampai keinginan untuk segera memindahkan kapal justru mengabaikan keselamatan atau mengganggu proses investigasi. Namun, jika kapal menimbulkan ancaman serius terhadap jiwa manusia, tindakan darurat harus dipertimbangkan oleh pihak yang berwenang. Yang terpenting, setiap keputusan mempunyai dasar teknis dan pertimbangan keselamatan yang jelas,” tuturnya.

Insiden KMP Batumandi setidaknya menjadi pengingat pentingnya penguatan latihan keadaan darurat, kesiapan peralatan keselamatan, kompetensi awak kapal, serta prosedur penanganan kebakaran dan pencemaran laut.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement