“Dalam hal ini, kita perlu mencegah, mengidentifikasi, dan memastikan bahwa kemungkinan terulangnya peristiwa serupa dapat ditekan semaksimal mungkin. Seperti yang saya katakan, dalam kasus kabut asap, tiga dekade adalah waktu yang terlalu lama,” tambah Vivian.
Vivian menegaskan, persoalan antarnegara perlu disikapi dengan tenang dan bijaksana. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, begitu pula pernyataan-pernyataan polemis yang terkadang muncul dari waktu ke waktu.
“Namun, cara Singapura adalah dengan selalu bersiap, bersikap konstruktif, dan tetap percaya diri tanpa perlu banyak bicara. Saya yakin kita akan dapat melewati persoalan ini sekali lagi, dengan cara yang selama ini menjadi ciri khas Singapura. Saya yakin akan hal itu,” paparnya.
Selain itu, kata Vivian, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan Presiden Prabowo telah berkomunikasi. Keduanya disebut telah menetapkan komitmen politik untuk mengatasi berbagai tantangan bilateral, termasuk persoalan kabut asap.
“Saya tidak bisa membahas detailnya. Namun, saya ingin memastikan bahwa komunikasi telah dilakukan di tingkat tertinggi antara Perdana Menteri saya dan Presiden Prabowo. Hal ini menunjukkan komitmen politik kedua belah pihak untuk melakukan apa yang diperlukan. Kini, kami harus melaksanakan rencana-rencana tersebut dan merealisasikan komitmen itu,” pungkasnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.