JAKARTA - Pengamat sosial dan pendidikan Prof Dr Azyumardi Azra menilai keterwakilan perempuan dalam calon kepengurusan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah masih tetap dibutuhkan.
Perempuan merupakan salah satu kekuatan Islam yang dapat menjadi pilar bagi bangsa dan negara.
“Saya sangat kecewa dengan keputusan kepemimpinan Muhammadiyah yang tanpa menyertakan kaum perempuan. Kondisi ini semakin memperjelas penurunan posisi Aisyiyah di dalam Muhammadiyah,” tegas Azyumardi menanggapi keberatan yang disampaikan PP Aisyiyah di Yogyakarta, Senin (5/7/2010) kemarin.
Seperti diberitakan, Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah mengeluarkan minderheid nota (nota keberatan) karena tidak ada wakil perempuan dalam hasil pemilihan calon anggota PP Muhammadiyah periode 2010-2015. Nota keberatan tersebut diserahkan dalam sidang pleno Muktamar Ke-46 Muhammadiyah untuk mendapat tanggapan lebih lanjut.
Menurut Azyumardi, kader perempuan Aisyiyah tidak hanya menjadi anggota, tetapi juga bisa menjadi ketua atau sekretaris kepemimpinan nasional Muhammadiyah. Saat ini sudah waktunya bagi Muhammadiyah untuk lebih bisa memberdayakan organisasi sayap yang dimilikinya, termasuk Aisyiyah.
Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Masyithoh Chusnan mengusulkan permintaan kader perempuan dalam kepemimpinan Muhammadiyah dilakukan tanpa perlu mengganti 13 nama yang sudah ditetapkan.
(Dede Suryana)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.