Keluarga Hari Suwandi Sempat Melarang Aksi Jalan Kaki

|

Hari Suwandi

Keluarga Hari Suwandi Sempat Melarang Aksi Jalan Kaki

SIDOARJO- Permintaan maaf Hari Suwandi ke keluarga Aburizal Bakrie dinilai ‘menampar’ muka korban lumpur. Sebab, jika dia benar-benar memperjuangkan korban lumpur harusnya tetap teguh pada pendirian.

Koordinator Paguyuban Korban Lumpur Menolak Kontrak (Pagarekontrak) H. Sunarto menandaskan, jika Hari Suwandi memang korban lumpur tidak akan berbuat seperti itu. "Tiba-tiba dia muncul di televisi menyesal telah melakukan aksi jalan kaki dan kemudian minta maaf. Lalu apa gunanya jalan kaki hampir sebulan," ujar Sunarto, Jumat (27/7/2012).

Sunarto mengaku sejak awal dia pesimistis aksi jalan kaki yang dilakukan Hari Suwandi seperti yang diharapkan. Sebab, Hari Suwandi tidak masuk dalam salah satu kelompok korban lumpur sehingga tidak mempunyai pendukung.

Kenyataannya, aksi yang dilakukan Hari Suwandi sangat memalukan karena setelah awalnya berlagak seperti pahlawan, ternyata keok di akhir cerita. "Kita malu, sudah mengaku korban lumpur tapi tidak konsisten," imbuh Sunarto.

Korban lumpur asal Desa Renokenongo tersebut menambahkan, sejak terjadinya semburan lumpur Hari Suwandi memang sempat bergabung dalam gerakan korban lumpur pendukung Perpres (Gepres). Namun, dia disinyalir sudah mendapat pembayaran ganti rugi untuk mengganti kerugian rumah mertuanya, padahal korban lumpur lainnya belum lunas.

Sehingga wajar ketika Hari Suwandi muncul dan akan menggelar aksi jalan kaki ke Jakarta, warga sempat ragu. Sebab, Hari Suwandi tidak mempunyai basis massa korban lumpur.  Bahkan, wajar jika korban lumpur berprasangka jika ada motif tertentu dibalik aksi Hari Suwandi itu.

 "Terbukti kan sekarang siapa sebenarnya Hari Suwandi. Kalau dia mengaku korban lumpur pernyataannya di TV One itu menyakitkan korban lumpur," tandas Sunarto.

Sekedar diketahui, sejak terjadinya semburan lumpur 2006 silam, korban lumpur terpecah menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok mempunyai kepentingan masing-masing yang menurut mereka menguntungkan.

Meski demikian, belum pernah ada korban lumpur yang meminta maaf kepada keluarga Bakrie. Dalam aksi demo korban lumpur mereka menghujat keluarga Bakrie, bahkan sampai membakar foto Aburizal Bakrie. Namun, bagi korban lumpur itu merupakan luapan kekesalan karena akibat lumpur mereka terusir.

Kini, Hari Suwandi yang jalan kaki dari Porong ke Jakarta bak pahlawan, ternyata diakhir aksi minta maaf kepada Bakrie. "Warga bisa menilai siapa sebenarnya Hari Suwandi. Kalau dia benar-benar korban lumpur tidak akan mempermalukan saudaranya sendiri," pungkas Sunarto.

Sementara itu, keluarga Hari Suwandi di Krembung, Sidoarjo terkesan menutup diri setelah sehari sebelumnya menyesalkan permintaan maaf yang dilakukan Hari Suwandi. Paini, orang tua Hari Suwandi terbaring sakit di dalam kamarnya. Sedangkan sejumlah saudara Hari yang berkumpul di rumah orang tuanya tertutup. Terutama kepada tamu yang berusaha meminta pendapat keluarga terkait keputusan Hari yang dinilai mengecewakan warga korban lumpur.

Hari Suwandi merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara. "Keluarga awalnya sudah mengingatkan dan berusaha melarang Hari agar tidak melakukan aksi itu karena dikenal banyak musuh. Namun karena tekadnya sudah bulat, keluarga menyetujuinya," ujar Tono, salah satu adik Hari Suwandi.

Saat ini keluarganya di Krembung tidak bisa berbuat banyak atas keputusan Hari Suwandi yang akhirnya minta maaf kepada keluarga Bakrie. Keluarganya menunggu kedatangan Hari Suwandi yang sampai saat ini belum pulang.

(ugo)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Hong Kong dan Makau Tetap Satu China