JAKARTA - Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tjahjo Kumolo meminta agar wacana pemindahan Ibu Kota Negara tidak ditanggapi secara gegabah. Hal utama yang perlu dipertimbangkan adalah aspek geopolitik. Begitu juga dengan pemisahan Ibu Kota Pemerintahan, dan Ibu Kota Perdagangan harus dikaji secara matang, tentang keuntungan dan kerugiannya.
"Dalam salah satu study komparasi oleh salah satu pengamat di seluruh dunia soal Ibu Kota Negara tersebut, dimana soal alasan perlu dipindah atau tidak, pertimbangan utama harus dicermati secara geopolitik juga. Pemisahan Ibu Kota Pemerintahan dan Ibu Kota Perekonomian perlu jadi pertimbangan," ungkap Tjahjo kepada Okezone, Kamis (17/1/2013).
Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kata Tjahjo, secara geografis menguntungkan di tengah Asia Pasifik dan praktis daerah tahan gempa dan lain-lain. "Tapi dari sisi pertimbangan sebagai kota metropolitan kurang mendukung sarana prasaarananya misal soal air bersih dan lain-lain," jelas dia.
Sehingga kajian tentang wacana pemindahan Ibu Kota harus betul-betul matang dan memenuhi segala aspek. Pemindahan Ibu Kota tidak boleh emosional karena disebabkan banjir yang melanda Jakarta.
"Jadi harus dikaji betul secara detil jangan semata emosional soal banjir, India saja sampai sekarang problema banjir juga tidak pernah teratasi," terangnya.
Dia mengakui, Jakarta perlu kajian konfrehensif terkait banyak problemtika yang menyebabkan banjir terus terjadi. "Soal Jakarta harus terpadu dengan proposional, lain dan soal penghijauan dan soal penataan saluran air dan problema DKI sudah dibawah permukaan air laut seperti belanda dan lain-lain, perlu kajian yang komprehensif tidak emosional," pungkasnya.
(K. Yudha Wirakusuma)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.