KUTA - Anak-anak di Pulau Bali dan Lombok termasuk paling rawan menjadi korban kasus eksploitasi seksual. Polri bersama interpol delapan negara akan memfasilitasi kepolisian kedua wilayah dengan piranti lunak khusus untuk menangkal kasus tersebut.
"Di Bali dan Lombok, modusnya semakin kompleks. Mulai dari yang paling klasik hingga dilakukan melalui dunia maya," kata Petrus R Golose, wakil ketua panitia saat menutup Interpol Working Party on Information Technology Crime for Asia and South Pacific di Hotel Kartika Plaza, Jalan Kartika Plaza, Kuta, Bali, Kamis (22/11/2007).
Petrus mengungkapkan, dibanding daerah lain di Indonesia, Bali dan Lombok paling rawan menjadi target kejahatan anak ini. Pasalnya, kedua pulau ini menjadi tempat berkumpul tamu dari negara asing. Apalagi, para bule selalu dianggap sebagai turis yang datang berlibur dengan maksud baik dan membawa uang melimpah.
Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi turut menyumbang praktik eksploitasi anak, baik itu eksploitasi seksual hingga perdagangan manusia (trafficking), yang melibatkan antarnegara. "Mulai dari posting gambar anak atau bagian tubuh tertentu dari si anak, hingga pura-pura dengan cara chatting dengan anak sebagai calon korban," kata Petrus.
Sayang, dia tidak bersedia mengungkapkan lebih jauh situasi teraktual kasus perdagangan anak melalui dunia maya itu dengan alasan kepentingan penyelidikan. "Namun, Bali dan Lombok masuk kategori paling rawan, terutama dengan korbannya anak-anak," sebut Kanit Cyber Crime Bareskrim Polri ini.
Dalam pertemuan empat hari itu, Polri bersama delapan negara anggota National Central Bureau Interpol (NCBI) se-Asia Pasifik sepakat memperkuat kerja sama dengan memberikan fasilitas perangkat lunak penangkal eksploitasi anak bernama CETS (Child Exploitation Tracking System) kepada delapan kepolisian daerah.
Selain Polda Bali dan NTB, bantuan juga diberikan kepada Polda Metro Jaya, Medan, Kepulauan Riau, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. "Teknologi ini lebih berfungsi untuk menangkal, bukan alat tangkap," ujar Petrus.
(Nurfajri Budi Nugroho)