JAKARTA - Presiden SBY menyindir pemberantasan korupsi di masa lalu yang kebanyakan terkesan "cuci tangan" ketimbang "cuci piring" atau pemberantasan korupsi yang sebenar-benarnya.
"Saya harus mengatakan, kita harus kerja keras mencuci piring, karena dulu banyak yang lupa mencuci piring. Justru banyak yang cuci tangan tapi lupa cuci piring," sindir SBY saat meresmikan Gedung Baru Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) di Jalan Juanda, Jakarta, Selasa (27/11/2007).
SBY mengatakan, Indonesia ke depan harus semakin bersih bukan semakin kotor, terutama dari kejahatan serius dan kejahatan luar biasa.
"Makin bersih sistem, makin bersih juga negara kita. Makin bersih transaksi negara kita, aset kita juga semakin selamat. Bisnis kongkalikong sudah berakhir, bisnis yang tidak benar sudah tidak jamannya lagi," kata presiden.
Presiden juga mengajak PPATK dan lembaga penegak hukum lainnya untuk menjawab tantangan perkembangan tekhnologi dalam melakukan kejahatan.
"Solusinya 3 hal, pertama, rezim money laundering harus kuat dan efektif, serta tidak boleh lemah dan proaktif, UU pencucian uang harus berlaku. Saya minta Ketua PPATK menggunakan semua resources yang sudah ada," katanya.
Kemudian, yang kedua, bersinergi, bekerja, dan bersatu berdasarkan aturan undang-undang yang berlaku. Ketiga, diperlukan kerjasama internasional.
"Saya dukung PPATK bekerjasama dengan negara lain, world bank. Tolong tindaklanjuti dengan penegak hukum yang lain untuk bekerjasama mengembalikan koruptor," katanya.
Makanya, Presiden juga berharap PPATK mengimplementasikan strategi nasional tentang pencucian uang, seluruh staf harus gigih bekerja, giat disiplin.
"Jangan baca Koran, harus lebih berani, kembangkan teknologi, dan metodologi. Jangan kalah dengan musuh, kita harus menang," pungkasnya.
(Syukri Rahmatullah)