Hidup Buruh Tak Layak Karena Pemerintah Inkonsisten

Sigit Zulmunir, Jurnalis
Sabtu 01 Desember 2007 13:55 WIB
Share :

GARUT - Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Sentra Reformasi Pergerakan Pekerja (SRPP) dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) menilai, belum layaknya kehidupan para pekerja atau buruh di Indonesia sebagai bukti pemerintah inkonsisten dalam ketenagakerjaan.

Ketua Umum SRPP Juju Prwanto mengatakan, kaum pekerja atau buruh hanya dilakukan sebagai objek oleh aparat pemerintah dan pengusaha. Mereka hanya dijadikan sebagai komoditas dalam masa kampanye tanpa ada upaya realistis. Sehingga kondisi kehidupan sosial dan para buruh jauh dari kebutuhan hidup minimum, apalagi untuk mencapai kebutuhan hidup layak.

"Saat kampanye, para pekerja atau buruh hanya diberi janji-janji. Namun, setelah bercokol mereka lupa terhadap janji tersebut," kata Jujud di Garut, Sabtu (1/12/2007).

Selain itu, penegasan hukum di Indonesia mengenai tenaga kerja, lanjut Juju, masih lemah. Terbukti, banyaknya kasus penganiayaan dan perlindungan hak pekerja seperti kasus tenaga kerja Indonesia (TKI) dan PT Dirgantara Indonesia (DI) yang hingga kini masih berlarut.

Bahkan sistem birokrasi pemerintahan pun dinilai terlalu berbelit-belit. Akibatnya, para pengusaha dan investor enggan menanamkan modalnya. Itu berakibat makin bertambanhnya jumlah pengangguran di Indonesia yang tercatat sekira 39 juta orang.

Ketua Hubungan Antarlembaga DPP PAN Ibrahim Sakti Batubara menjelaskan, intervensi yang meletakan kepentingan buruh di bawah kepentingan modal dan kekuasan masih melekat. Akibatnya, kaum buruh hanya menjadi hamba usaha bukan sebagai warga atau pelaku usaha.

Selain itu, UU tenaga kerja belum bisa mengakomodir kepentingan kaum butuh dalam kehidupan sosial lainnya, Pendapatannya pun hanya memenuhi kebutuhan fisik minimim untuk mempertahankan hidup selama 1 bulan.

"Kepentingan mengenai pendidikan dan lainnya tidak tersenuhi. Sebaiknya kata upah minimum regional (UMR) diubah menjadi Kebutuhan Fisik Minimum (KFM). Soalnya, upah yang didapat hanya sebagai alat mempertahankan bukan memenuh kebutuhan hidup," imbuhnya.

(Fetra Hariandja)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya