Siswa SD Tewas Dianiaya 8 Teman

Slamet Parsono, Jurnalis
Sabtu 19 Januari 2008 19:00 WIB
Share :

BANDUNG BARAT - Asep Permana (11), siswa kelas V SD Karangtanjung, Kec Cililin, Kab Bandung Barat (KBB), tewas dianiaya delapan temannya.

Jasad warga RT 03/03, Kampung Manapa, Desa Karang Tanjung, Kec Cililin, KBB, itu diautopsi di RSHS Bandung. Korban tewas setelah mengalami sakit parah di kediaman neneknya Kampung Babakanpari, Desa Batujajar Timur, Kec Batujajar, KBB, pada Jumat (18/1), pukul 17.30 WIB sore. Jenazahnya disemayamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Babakanpari, Sabtu (19/1/2008).

Keterangan di lapangan menyebutkan, seusai prosesi pemakaman petugas di Mapolsek Cililin langsung menciduk lima dari delapan tersangka yang diduga melakukan pengeroyokan.

Penganiayan tersebut dilakukan di Curug Sawer, Kec Cililin, sekitar 200 meter dari rumah korban pada akhir November 2007. Sebelum tewas Asep mengalami kelumpuhan, tidak bisa bicara, dan depresi lebih dari tiga bulan.

Ibu kandung korban Sri Rahayu mengungkapkan, peristiwa penyiksaan tersebut bermula dari masalah sepele. Menurut dia, Asep difitnah sejumlah temannya telah mencuri burung kutilang milik temannya Ayang, 14. Keesokan harinya kakak kandung Ayang, Nining, 20, dari Cililin sengaja mendatangi Sri. Nining menagih ganti rugi kepada Sri terhadap binatang kesayangan adiknya yang dicuri.

"Waktu itu saya kasih Rp15.000 kurang Rp5.000 karena burungnya dihargakan Rp20.000. Tapi, tiga hari dari sana pulang-pulang anak saya sudah luka-luka. Dua orang pegang Asep dan yang lainnya memukul-mukul. Anak saya disiksa delapan temannya, lalu dilempar ke parit Curug," jelas Sri kepada wartawan di kediaman orang tuanya, Desa Batujajar Timur, Kec Batujajar, Sabtu (19/1/2008).

Dia menerangkan, setelah penganiayaan selama sakit Asep tidak pernah masuk sekolah karena tidak bisa berjalan. Kedua kakinya dan sekujur tubuhnya lumpuh total, sedangkan sepasang matanya menatap kosong. Pada 15 Desember 2007 korban sempat menjalani perawatan di RSUD Cibabat Kota Cimahi. Tiga hari dia di sana dan hasilnya korban masih tetap tidak bisa bicara.

Keterangan dokter menyebutkan, trombosit Asep turun lebih dari setengahnya dan mengalami luka dalam serius. Sri mengaku menolak perawatan lebih lanjut di rumah sakit karena terbatas biaya. Asep pun sempat menjalani pengobatan alternatif melalui sejumlah obat tradisional. Pada 23 Desember 2007 kondisi Asep menujukkan perubahan, yakni bisa berbicara meski terbata-bata.

"Nah, kemarin (Jumat, 17/1) sore Asep muntah darah terus-terusan. Sebelumnya juga pernah buang air besar darah. Saya tidak mengira Asep meninggal di ruang tamu. Matanya tertutup dan wajahnya putih pucat," tandas Sri.

Kakak kandung Sri, Lilis Oliyah, 33, menambahkan, seminggu sebelum kepergian Asep pihak keluarga meminta pertanggung jawaban kepada keluarga delapan pelaku yang kebanyakan masih siswa SMP dan SMA itu. Namun, hingga korban meninggal pihaknya tidak mendapat jawaban. Akhirnya, Lilis beserta keluarga korban melaporkan penganiayaan tersebut ke Mapolsek Cililin.

"Sampai Asep meninggal tidak ada satu pun dari mereka yang menjenguk ke sini atau yang mau bertanggung jawab. Kami tahu Asep dianiaya delapan temannya dari bahasa isyarat Asep di rumah sakit ketika ditanya dokter. Kami langsung lapor ke polisi kalau Asep sudah disiksa hingga tewas," pungkas Lilis.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolsek Cililin AKP Siswanto menyatakan, saat ini petugas baru menciduk lima pelaku dugaan penganiayaan terhadap korban hingga tewas. Sementara, dua sisanya masih dalam pelacakan yang semuanya bertempat tinggal di Kec Cililin. Siswanto mengaku, sejauh ini kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan.

"Tapi, penyebab tewas korban mengarah pada penyiksaan. Kami sudah membawa korban ke RSHS untuk diautopsi," tandas Siswanto.

(Syukri Rahmatullah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya