JAKARTA – Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, belakangan ini ramai diperbincangkan publik. Pasalnya, pesantren pimpinan Panji Gumilang tersebut diduga menyimpang dari ajaran agama dan erat kaitannya dengan Negara Islam Indonesia (NII).
Salah seorang mantan santri Al-Zaytun bernama Panusunan Siregar yang bergabung ke Al-Zaytun pada tahun 2000, mengaku sering mendapatkan ajaran yang menyimpang dari syariat Islam, salah satunya para santri diperbolehkan berkencan dengan lawan jenis yang belum menjadi muhrim. Kisah Panusunan itu pun beredar di dunia maya.
“Mereka wajib berpacaran pada setiap hari Jumat. Berpegangan tangan dan berciuman tidak dilarang, bahkan santri bernama Noris dari Malaysia sempat hamil, namun oleh para ustadz diperintahkan agar digugurkan,” kata orangtua Panusunan, Darma Taskiyah kepada okezone, Jumat (6/5/2011).
Bahkan, para santri juga tidak dilarang melihat gambar-gambar porno. Bahkan, gambar seronok tersebut diperjualbelikan oleh sejumlah pihak di Al-Zaytun yang dinamakan pasukan kuning (Muwadzaf).
“Para santri pria juga diperbolehkan memasuki asrama putri. Bahkan maaf, anak saya pernah melihat ada santri yang menghisap kemaluan temannya,” tandasnya.
Karena sejumlah ajaran kontroversi tersebut, Taskiyah pun akhirnya menarik kembali anaknya dari pesantren tersebut pada 5 Oktober 2001. Dia pun lantas melaporkan tindakan Al-Zaytun tersebut ke Mabes Polri pada 8 Oktober 2001. Namun, belum diketahui sejauhmana pengutusan dari polisi atas laporan ini.
Menanggapi tudingan tersebut, pihak Al-Zaytun membantah tegas. Melalui juru bicaranya Ali Abdullah mengatakan, tudingan tersebut adalah fitnah. Menurutnya, Al-Zaytun selalu mengedepankan akhlak saat mengajarkan para santri.
“Di sini selalu mengedepankan akhlak dan kurikulum. Tudingan tersebut tidak benar. Yang saya tahu, Panusunan memang anak yang tingkat kenakalannya terbilang lebih dibanding anak lain. Dia hanya sebentar pesantren di sini,” pungkasnya.
(TB Ardi Januar)