PM Jepang Ditekan untuk Mundur

Fajar Nugraha, Jurnalis
Kamis 02 Juni 2011 12:01 WIB
PM Jepang Naoto Kan (Foto: Getty Images)
Share :

TOKYO - Perdana Menteri Jepang Naoto Kan menghadapi mosi tidak percaya di parlemen. Saat ini dirinya dalam tekanan untuk mundur dari kursi perdana menteri, setelah dirinya dianggap gagal menghadapi krisis nuklir saat gempa dan tsunami mengguncang Jepang.


Kan mengatakan, partainya saat ini merasa bertanggungjawab atas krisis yang terjadi dan berusaha untuk memimpin proses perbaikan pasca gempa dan tsunami yang melanda 16 Maret lalu. Namun dirinya memastikan akan mundur usai proses rekonstruksi pasca gempa selesai.

"Setelah rekonstruksi selepas gempa selesai. Saya akan menyerahkan tanggung jawab (sebagai perdana menteri) kepada generasi yang lebih muda," ucap Naoto Kan seperti dikutip Associated Press, Kamis (2/6/2011).

"Krisis nuklur masih terus berlanjut. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi krisis ini dan melanjutkan proses rekonstruksi," lanjutnya.

Sebelumnya partai oposisi yakni Partai Liberal Demokrat mengajukan mosi tidak percaya bersama dengan dua partai kecil lainnya.  Meskipun Partai Demokrat Jepang yang mengusung Kan masih berkuasa di parlemen, tetap saja banyak para pejabat partai yang khawatir atas kepemimpinan Kan.

Mosi ini dan perpecahan di tubuh partainya membuat upaya rekonstruski yang dipimpin Kan menjadi semakin sulit, termasuk rencana penambahan dana dalam jumlah besar dan kemungkinan kenaikan pajak. 

Gempa berkekuatan 9,0 skala richter (SR) melanda Jepang Maret lalu. Gempa yang disertai tsunami ini menyebabkan kerusakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi mengalami kerusakan berat dan mengalami kebocoran pada reaktornya.

Krisis dianggap sebagai krisis nuklir paling terparah sejak kebocoran nuklir di PLTN Chernobyl tahun 1986 silam. Sekira 80 ribu warga dievakuasi usai terdeteksinya kebocoran dari PLTN Fukushima tersebut. 

(Fajar Nugraha)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya